Klik link ini untuk melihat https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/sekolah-hebat/halaman-muka
Laporan Pandangan Mata: Merawat Harapan, Menenun Hijau di Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari
Oleh: Tim Redaksi Buletin Digital Seventeen
Kendari, Juni 2026
Halo Sobat Seventeen!
Bagaimana kabar gawai dan semangat kalian hari ini? Semoga secerah langit Kendari ya! Hari ini, Tim Buletin Digital Seventeen mengajak kalian semua untuk melepaskan pandangan sejenak dari layar ponsel dan beralih ke sudut hijau sekolah kita. Ya, apa lagi kalau bukan area penanaman Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari!
Tim kami baru saja melakukan pemantauan langsung di lapangan, dan jujur saja, ada rasa hangat dan bangga yang membuncah saat melihat perkembangan proyek hijau kita ini. Yuk, ikuti laporan pandangan mata kami!
Dari Tunas Kecil, Kini Mulai Belajar Berbuah
Ingatkah kalian beberapa minggu lalu saat kita bersama-sama menyemai dan merawat bibit cabe kecil (cabe rawit) di tanah sekolah kita? Berkat cucuran keringat dan kepedulian kita semua, pemandangan di area kebun kini sudah berubah drastis.
Sejauh mata memandang, rona hijau dedaunan tampak begitu menyegarkan. Dan tebak apa? Saat kami mendekat, sebagian besar tanaman cabe kecil kita sudah mulai menampakkan bunga-bunga putih yang cantik, bahkan beberapa di antaranya sudah belajar berbuah! Menyaksikan buah-buah cabe hijau kecil yang mulai menyembul di antara dedaunan itu rasanya seperti melihat adik bayi yang baru belajar berjalan—menggemaskan sekaligus bikin bangga!
"Melihat bunga-bunga itu mekar, rasanya semua lelah setelah pulang kelas langsung hilang. Ini bukti kalau usaha kita tidak mengkhianati hasil!" ujar salah satu siswa yang sedang menyiram tanaman.
Realita di Lapangan: Perjuangan Melawan Hama dan Gulma
Namun, Sobat Seventeen, berkebun tentu bukan cerita tentang keberhasilan instan. Alam selalu punya cara untuk menguji kesabaran kita. Dalam pantauan kami, harus diakui bahwa tidak semua tanaman tumbuh dengan optimal. Ada beberapa titik tanaman yang tampak kerdil atau daunnya sedikit menguning. Tapi tenang, Tim Adiwiyata dan teman-teman kita tidak tinggal diam! Berbagai upaya penyelamatan terus digalakkan secara konsisten:
Pemupukan Berkala: Nutrisi tambahan terus diberikan agar tanaman yang tertinggal bisa mengejar ketertinggalannya.
Pembasmian Hama: Pengawasan ketat dilakukan untuk menghalau kutu daun dan ulat yang nakal.
Pembersihan Gulma: Rumput liar yang berebut makanan dengan tanaman cabe kita dicabut secara rutin.
Kita harus paham bahwa dalam satu ekosistem, wajar jika ada yang tumbuh cepat dan ada yang butuh perhatian ekstra. Yang terpenting adalah komitmen kita untuk tidak menyerah pada tanaman yang kurang optimal tersebut.
Kegembiraan yang Tak Ternilai
Dibalik dinamika pasang surut tersebut, ada satu hal yang paling berharga: rasa gembira dan kebersamaan kita. Melihat usaha mandiri seluruh warga SMPN 17 Kendari mulai menampakkan hasil nyata adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Program Sekolah Hebat ini bukan sekadar tentang memanen cabe, tapi tentang memanen karakter peduli lingkungan, kerja keras, dan rasa tanggung jawab.
Yuk, Jaga Bersama Hijau Sekolah Kita!
Sobat Seventeen, tanaman-tanaman cabe ini adalah aset kita, simbol dari kerja keras kolektif kita. Tanaman yang subur berkat rawatan kita, dan yang kurang optimal menanti uluran tangan kita.
Oleh karena itu, yuk kita luangkan waktu, minimal dengan tidak mengganggu atau merusak area steril tanaman. Jikalau lewat dan melihat ada rumput liar atau hama, jangan segan untuk mencabutnya. Mari kita kawal proses ini bersama-sama sampai hari panen raya tiba!
[SPECIAL UPDATE] Merah Merona di Lahan Kita: Cabe Besar SMPN 17 Kendari Siap Panen Raya!
Oleh: Tim Redaksi Buletin Digital Seventeen
Kendari, Juni 2026
Sejauh Mata Memandang: Barisan "Raksasa" yang Sempurna
Berbeda dengan beberapa petak tanaman lain yang masih butuh perawatan ekstra, blok cabe besar (lombok besar) kita menunjukkan performa yang juara dunia! Tim kami yang turun ke lapangan dibuat takjub melihat pertumbuhan tanaman yang begitu seragam, kokoh, dan sehat.
Tidak ada kata "kerdil" di sini. Semua tanaman tumbuh tegak memamerkan daun hijau pekat yang lebar. Dan yang paling bikin gagal fokus? Buah-buah cabe besar itu! Mereka sudah bergelantungan dengan berat, mengkilap terkena sinar matahari, dan beberapa sudah mulai berubah warna dari hijau tua menjadi kemerahan.
"Ini mah tinggal hitungan hari menuju panen!" celetuk salah satu anggota tim kami saat melihat ukuran cabe yang panjang dan berisi.
Euforia di Kebun: Senyum yang Tak Bisa Disembunyikan
Sobat Seventeen, tahu tidak apa yang lebih indah dari melihat buah cabe yang lebat? Jawabannya adalah melihat wajah-wajah bahagia teman-teman kita.
Suasana di kebun sekolah belakangan ini terasa sangat berbeda. Ada aura kegembiraan yang menular. Setiap pagi dan sore, siswa-siswa yang bertugas merawat tampak begitu bersemangat. Rasa lelah menyiram dan mencangkul seolah menguap begitu saja saat mereka memegang langsung buah lombok yang sebentar lagi siap dipetik.
"Jujur, rasanya puas banget! Kemarin-kemarin kita cuma lihat di internet cara menanamnya, sekarang buahnya beneran ada di depan mata dan tumbuh subur semua. Kami sudah tidak sabar mau panen bareng-bareng!" — Rani, Siswa Kelas 8.
Bukan cuma Rani, hampir semua siswa yang lewat di area ini pasti akan berhenti sejenak, berdecak kagum, atau bahkan melakukan selfie dengan latar belakang cabe yang lebat. Keberhasilan ini benar-benar menjadi mood booster bagi seluruh warga SMPN 17 Kendari
Setelah kita disuguhkan pemandangan indah dari cabe kecil dan cabe besar, kali ini Tim Buletin Digital Seventeen membawa laporan yang penuh inspirasi dan perjuangan dari blok Tanaman Tomat. Seperti yang kita tahu, cuaca di Kendari beberapa hari terakhir ini sedang tidak menentu, bahkan curah hujan yang tinggi sempat membuat area kebun sekolah kita tergenang banjir.
Namun, tebak apa yang terjadi? Alih-alih layu, tanaman tomat kita justru menunjukkan mental juara!
Si Hijau yang Tangguh: Melawan Hujan Lebat dan Banjir
Banjir dan empasan hujan lebat boleh saja datang, tetapi tanaman tomat Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari menolak untuk menyerah. Berkat struktur tanah yang dirawat dengan baik dan kesigapan teman-teman dalam membenahi drainase pasca-banjir, keajaiban itu benar-benar terjadi.
Saat kami melakukan pantauan mata hari ini, batang-batang pohon tomat berdiri dengan sangat kokoh. Pertumbuhan batangnya begitu kekar seolah mencengkeram bumi dengan kuat. Tidak hanya itu, daun-daunnya tumbuh sangat lebat, hijau segar, dan bebas dari kerusakan berarti akibat badai.
Yang paling membuat kami berdecak kagum adalah di balik rimbunnya daun-daun lebat itu, kuncup-kuncup bunga kuning kecil mulai bermunculan dengan indahnya! Ini adalah simbol kehidupan dan kemenangan kecil atas cuaca ekstrem yang sempat melanda sekolah kita.
Usaha Tanpa Henti dan Untaian Doa para Siswa
Ketangguhan tanaman tomat ini tidak lepas dari "tangan dingin" dan ketulusan hati para siswa SMPN 17 Kendari. Melihat kebun mereka sempat diterpa banjir, teman-teman kita tidak tinggal diam atau pasrah. Mereka justru makin gencar bergerak: mengikat batang tomat ke bilah bambu (ajir) agar tidak roboh, membersihkan sisa lumpur, dan memastikan akar tanaman tidak membusuk.
Namun, di samping usaha keras fisik tersebut, ada hal menyentuh yang kami temukan di lapangan. Di sela-sela waktu merawat tanaman, terdengar untaian harapan dan doa yang tulus dari para siswa.
"Setiap kali menyiram dan melihat bunganya mulai tumbuh setelah banjir kemarin, kami selalu menyelipkan doa. Kami berharap cuaca bisa lebih bersahabat ke depannya dan Tuhan memberkati kerja keras kami, agar dalam waktu dekat, tomat-tomat ini bisa berbuah lebat dan segera kami panen," ungkap salah satu siswa dengan mata berbinar penuh harap.
Melihat dedikasi yang begitu besar, rasanya tidak berlebihan jika kita optimis bahwa buah-buah tomat yang ranum akan segera menghiasi kebun kita dalam waktu dekat.
Mari Jaga Harapan Ini Bersama!
Sobat Seventeen, tanaman tomat ini adalah guru kehidupan bagi kita semua. Mereka mengajarkan bahwa sekeras apa pun badai dan ujian yang menerpa (bahkan banjir sekalipun), selama kita memiliki akar yang kuat dan dirawat dengan kasih sayang, kita akan tetap berdiri tegak dan tumbuh berbunga.
Mari kita aminkan bersama doa teman-teman kita. Tetap jaga barisan, bantu awasi kebun sekolah kita setelah hujan mereda, dan mari kita tunggu bersama momen manis saat buah tomat pertama mulai ranum dan siap dipetik!
Sampai jumpa di laporan pandangan mata berikutnya!
SMPN 17 Kendari? Hebat, Tangguh, Pantang Menyerah!
Buletin Digital Seventeen? Setia Menemani Setiap Jengkal Perjuangan Kita!
Link Laporan Program Sekolah Hebat - Mei 2026
https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/sekolah-hebat/halaman-muka
@sekolahhebat
#bankindonesia
Pagi itu, pada pukul 07.00, udara masih terasa sejuk di lingkungan sekolah. Bel tanda dimulainya pelajaran pertama telah berbunyi, dan suasana di luar kelas VIII.I sedikit berbeda dari biasanya. Kami, enam siswa yang tergabung dalam satu kelompok, telah berkumpul di depan kelas, bersiap untuk melaksanakan praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kelompok kami terdiri dari saya sendiri, Nurma, Wulan, Bintang, Dzaky, dan Nazwan. Kegiatan diawali dengan game. Mengisi TTS dari penutup botol. Keseruan sangat terasa ketika berkompetisi antar kelompok.
Guru IPA kami, Pak Suhardin, dengan senyumnya yang khas, sudah berada di tengah-tengah kami. Beliau adalah guru yang selalu mendorong kami untuk belajar melalui praktik langsung. Praktikum kami hari ini adalah tentang Penyaringan Air Sederhana. Persiapan untuk praktikum ini sudah kami lakukan jauh-jauh hari. Sesuai instruksi Pak Suhardin, setiap anggota kelompok wajib membawa satu botol plastik bekas air mineral berukuran sedang (spesifiknya, botol Le Mineral) yang sama).
Selain itu, kami juga bertugas mengumpulkan satu genggam pasir dan satu genggam kerikil. Kami telah mencuci material ini hingga benar-benar bersih dan mengeringkannya di bawah terik matahari, memastikan semuanya steril dan siap pakai. Di atas meja yang kami gunakan, semua bahan dan alat sudah tertata rapi.
Apa saja bahannya? Enam botol plastik Le Mineral (masing-masing botol memiliki tutup botol, satu ditutup tanpa lubang dan satu lagi dilubangi kecil). Ada pula kerikil, pasir yang sudah dicuci dan dikeringkan, kapas, air keruh (yang akan kami saring). Bagaimana dengan Alatnya? Kami menyiapkan gunting, mistar, dan buku catatan untuk hasil pengamatan.
Pak Suhardin membuka sesi dengan mengingatkan kami tujuan dari kegiatan ini yakni memahami prinsip dasar pemisahan zat melalui filtrasi dengan memanfaatkan material alami.
"Anak-anak, hari ini kita akan membuat alat penjernih air mini. Perhatikan langkah-langkahnya dengan teliti. Tujuan kita adalah melihat seberapa efektif susunan material ini dapat mengubah air keruh menjadi air yang lebih jernih," Jelas Pak Suhardin.
Kami mulai bekerja. Bintang dan Dzaky bertugas memotong bagian bawah botol plastik dengan hati-hati menggunakan gunting, sementara Wulan dan Nurma memastikan botol lainnya diposisikan terbalik. Tutup botol yang sudah dilubangi kecil dipasang pada botol yang akan dijadikan alat penyaring. Langkah berikutnya adalah menyusun lapisan material di dalam botol yang dibalik. Berdasarkan petunjuk, urutannya harus tepat.
Saya bertugas memasukkan kapas sebagai lapisan paling bawah (menempel pada tutup botol yang berlubang). Kapas berfungsi sebagai media penahan pertama. Setelah itu, Nurma memasukkan lapisan kerikil yang cukup tebal. Di atas kerikil, Wulan menyusul dengan lapisan pasir yang sudah bersih dan kering. Susunan ini diulang hingga hampir memenuhi badan botol, dengan Nazwan memastikan setiap lapisan dipadatkan dengan merata.
Alat penyaring sederhana kami pun siap. Kami menempatkan botol penyaring ini di atas botol lainnya yang berfungsi sebagai penampung air hasil saringan (filtrat). Dzaky bertugas menuangkan air keruh secara perlahan ke dalam alat penyaring buatan kami. Seketika, air keruh mulai meresap melalui lapisan pasir, kerikil, dan kapas. Kami semua menahan napas, mata kami tertuju pada tetesan air yang mulai keluar dari lubang tutup botol.
Air yang menetes ke botol penampung terlihat jauh lebih jernih dari air keruh yang kami tuangkan. Meski belum sepenuhnya bening seperti air minum, perubahan kejernihan airnya sangat signifikan. Nazwan dengan sigap mulai mencatat hasil pengamatan di buku. Kami mendiskusikan perbedaan warna, kekeruhan, dan kecepatan air menetes. Kami menggunakan mistar untuk memperkirakan ketebalan setiap lapisan material yang kami buat.
"Coba bandingkan dengan air yang kalian tuangkan, Nak." Kata Pak Suhardin sambil menunjuk ke kedua botol. "Lapisan material ini memerangkap partikel-partikel padat penyebab keruhnya air. Ini adalah demonstrasi sederhana dari proses filtrasi."
Rasa antusias dan puas terpancar dari wajah kami. Praktikum di pagi hari itu bukan hanya sekadar tugas, tetapi pengalaman nyata yang mengajarkan kami tentang ilmu alam dan pentingnya kerja sama tim. Pukul 08.20, ketika praktikum selesai, kami membereskan alat dan bahan dengan rasa bangga akan hasil karya sederhana kami.
Merancangnya memang penuh tantangan. Membuat desainnya serta rancangan alat dan bahan yang dibutuhkan hal pertama yang dilakukan. Mungkin ini tidak sebagus yang dijual pada pasar atau supermarket. Namun ini barang berharga buatku. Akhirnya saya mampu membuatnya dengan caraku sendiri.
Saat kegelapan, lampu ini manampakkan cahayamya. Tidak pelu terang karena rencanya digunakan pada kamar tidur. Mengapa demikian? Hasil studi pustaka yang dilakukan, ternyata suasana remang atau reduk saat tidur sangat bermanfaat bagi tubuh. Cahaya yang redup ini akan meyebabkan tubuh dapat memproduksi hormon melatonin. Zat yang dibuat tubuh saat tidur. Rupanya kekurangan hormon ini akan menyebabkan munculnya tanda-tanda kecemasan, respon terhadap stress yang buruk, menimbulkan insomnia dan bangun terlalu pagi. Hormon ini juga membantu dalam siklus menstrasi pada wanita dan hilangnya fingsi neuron. Nah, bagaimana? Apakah lampu tidur dikamarmu telah redup?
Sebenarnya setiap orang bertanggung jawab atas tanamannya sendiri. Perawatan dan pemeliharaannya dilakukan setiap hari. Namun jika berhalangan, kawan lain akan membantu agar tanaman ini tidak mati. Yang paling penting adalah menyiraminya setiap hari sekolah. (Rezky - VIII.7)
Menanamkan pemahaman yang lebih jauh dalam proses belajar anak dapat dilakukan melalui kegiatan tindak lanjut. Salah satunya dengan kegiatan proyek sederhana. Memanfaatkan aset sekitar siswa dapat dilakukan untuk mendekatkan pemahaman mereka dengan lingkungan belajar yang dihadapinya. Kerangka Inquiri dengan empat langkah strategis ini dapat dicoba dalam kegiatan belajar mandiri peserta didik.
1. Refleksi Diri
Mendorong peserta didik untuk mengenal diri melalui bakat dan minatnya menjadi penting untuk merancang kegiatan. Memanfaatkan lingkungannya sendiri akan mempermudah dalam menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Aset yang ada menjadi modal dalam berkarya. Salah satu contohnya memanfaatkan bahan limbah plastik atau bahan organik lain sekitar rumah untuk memulai proyeknya. Pilihan tema yang sederhana sesuai kondisi yang ada diutamakan untuk membantunya dalam menyelesaikan masalah sesuai kondisi yang dimilikinya.
https://vt.tiktok.com/ZSjDTHcfK/
2. Perencanaan atau Perancangan
Bukan hanya waktu yang tepat serta uraian kerja yang dibutuhkan saja. Ide dan gagasan yang ideal menjadi penting dan bermakna. Menguraikannya bisa dalam peta konsep, cerita, gambar, uraian terstruktur atau prototipe sederhana. Masukan berupa saran atau tambahan informasi dari rekan-rekannya akan memperkaya rancangan produk yang akan dibuat.
3. Aksi Nyata atau Implementasi
Setelah semua siap, kegiatan aksi nyata bisa dimulai. Bantuan bimbingan orang terdekat dan ahli dibutuhkan dalam kegiatan ini. Sebagai motivator, seorang guru bisa membuka ruang konsultasi untuk menjebatani masalah yang dihadapi saat berproses.
4. Evaluasi
Penilaiannya menjadi kesepakatan awal sebelum proyek dimulai. Menata aspek keberhasilan produk yang akan diamati. Tentu akan banyak indikator yang bisa dipakai, namun kriterianya boleh disederhanakan untuk memantau proses dan melihat hasil akhirnya. Ini bukan masalah tes pilihan ganda atau esay. Ukuranya bisa dilakukan melalui survei dan daftar cek list pencapaian yang diperoleh. Jika butuh pembenahan hal itu akan menjadi kegiatan tindak lanjut setelah tahap akhir proyek diselesaikan,
Bukan Pelajaran Bahasa
atau Seni. Ini tentang sains dalam mendorong numerasi dan literasi dilingkungan
sekolah. Ketika rapor pendidikan membutuhkan sentuhan perubahan, kegiatan
pembelajaran pun menjadi alternatif upayanya.
Ketika tamu saga
telah diimplementasikan, selanjutnya adalah tindak lanjut kegiatan belajar. Hal
ini dilakukan melalui proyek kecil. Siswa memacu kreativitas dan bakatnya dalam
ruang kelasnya sendiri. Beberapa produk bisa menjadi pilihan yang menarik. Ada
poster dengan berbagai rupa. Manual maupun digital adalah cara untuk mewujudkan
keinginannya. Acuannya adalah kesepakatan kelas untuk mewujudkan implementasi
kriteria tujuan pembelajaran dalam karya sendiri. Ide itu muncul dalam bentuk
poster bercerita, lukisan dan opini, cerita praktikum maupun poster digital.
Karya mereka menjadi
pajangan. Bukan hanya diruang kelasnya namun bisa jadi ada dikelas lain. Ini
untuk berbagi pengalaman dalam tulisan. Kata pakar inilah nuansa kelas kaya
teks. Ada pula yang memilih berbagi pengalaman dalam kelompok kecil. Bercerita
dengan media poster buatannya. Interaksinya sesuai kesepakatan yang dibangun
sebelumnya. Semua mengambil peran yang sama. Kemandirian yang bertangung jawab
dari kreasi yang dibuat menjadi fokus yang diamati.
Disisi lain pada waktu
berbeda, produk dari aksi nyata yang dibuat diperlihatkan. Peragaannya menarik
perhatian mereka. Salah satunya pembuatan dan atraksi robot hidrolik, dispenser
sederhana, mobil-mobilan balon atau roket air. Tahun ini pilihan proyek
mandirinya adalah roket air. Cerita tentang cara merancang, berbagi tugas,
hambatan yang ditemui, cara menyelesaikan masalah hingga perasaan mereka ketika
malakukannya menjadi kisah unik untuk disimak. Begitulah diferensaisi lingkungan
belajar untuk menemuhi kebutuhan dan minat yang ada.
Cerita itu bukan
terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang terjadi sebelumnya. Tamu saga (tabung menara
ukur skala ganda) menjadi inspirasi dalam pembelajaran. Identifikasi dan
Analisa mendominasi dalam kegiatan praktikum. Fasiltas yang disiapkan begitu
beragam. Bahan cetak maupun elektronik menjadi pilihan sesuai kebutuhannya.
Proses diferensiasi dalam belajar juga ada. Hal ini untuk memenuhi
ketercapainya indikator kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran yang telah disepakati.
Problem Basic Learning hanya menjadi jembatan kegiatan tutor sebaya
dalam teknik tanya jawab dan diskusi yang berlangsung. Kegiatan terbimbing
dengan bantuan peragaan dan tanya jawab menjadi opsi lain setelah formatif
berlangsung.
Media dibuat untuk
membantu mereka memahami lebih mendalam materi yang dipelajari. Ada video,
bacaan blog maupun lembaran yang bisa dibaca langsung. Sebuah buku yang
berjudul bermain dan belajar tamu saga bisa tersaji diperpustakaan sekolah.
Inilah upaya kecil untuk membantu semampunya agar mereka mudah memahami keadaan
yang ada. Semua cerita itu selalu memanfaatkan aset yang dimiliki siswa,
lingkungan sekitar maupun gurunya.
Terimaksih anak
didikku. Kalian memang memiliki semangat yang luar biasa untuk belajar. Marilah
menafsirkan sejenak kata-kata bijak ini. ”Jika Kamu tidak sanggup menahan
lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan” karena
“Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan
hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.” Oleh karena belajar yang merupakan
bagian dari kehidupan. Mestilah belajar itu menjadi dan dalam rangka ibadah
(Imam Syafi”i).
Buku ini merupakan masuk dalam Top Ten karya guru pada kegiatan Bimbingan Teknis Karya Tulis Angkatan Dua Bagi Guru Se-Indonesia. Kegiatan ini berlangsung pada 13-16 November 2017 di P4TK Bandung - Jawa Barat.
Buku Ini sudah bisa akses pada laman Kemdikbud yakni https://pustaka.kemdikbud.go.id/libdikbud/index.php?p=show_detail&id=41916&keywords=
Nomor registrasi perpustakaan digitalnya adalah 000128408
dengan identifikasi bukunya sebagai berikut :
Detail Information
Series Title
-
Call Number
LEN 507 SUH
Publisher
Surabaya : CV. Pustaka
Mediaguru., 2017
Collation
viii, 82 p. : ill. ; 21 cm.
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
9786024682774
Classification
507
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
Cet. 1
Subject(s)
-
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
Suhardin
Eksperimen Sains Murali
Praktikum di sekolah. terkendala
dengan ruang dan peralatan laboratorium yang ada. Kendala itu menyebabkan
kegiatan eksperimen menjadi terhambat. Kondisi itu menyebabkan pembelajaran
hanya mengandalkan kegiatan demosntrasi. Itupun jika alat yang digunakan
tersedia. Waktu jam belajar yang bersamaan menjadi penyebabnya.
Keterbatasan alat itulah sehingga
perlu adanya solusi pemecahannya. Merancang media sendiri dengan alat sederhana
menjadi pilihan. Alat ini dibuat dengan memanfaatkan bahan baku yang terdapat
di linkungan sekolah atau rumah. Alat itupun akan menjadi lebih murah dan ramah
lingungan (murali). Bahan-bahannya tersebut tidak mudah pecah.
Pemanfaatannya harus
mempertimbangkan tingkat keselamatan. Mengingat ruang kelas digunakan sebagai
sarana praktikum alternatif. Pemanfaatannya menjadi lebih mudah, jika disajikan
prosedur sederhana tentang bagaimana pengopersikan dalam konteks kerja kelompok.
Pertimbangan itu menyebabkan desaian alat harus dibarengi dengan ilustrasi atau
model cara memakainya. Bentuknya dapat berupa video atau gambar yang mudah
dimengerti oleh peserta didik. Menggunakan alat bantu alternatif harus melalui
ujicoba. Kelemahan maupun kelebihan yang ada dapat menjadi pertimbangan untuk
mengembangkannya. Lembar kegiatan peserta didik harus dipersiapkan agar
pembelajaran dapat runtun dan terarah.
Mengajarkan sains melalui
eksperimen dengan alat buatan guru sangat mudah. Rancangan sendiri menjadi
keunggulannya. Seluk beluknya dapat dikuasai, sehingga pembimbingan dapat
dilakukan tahap demi tahap. Praktikum terbimbing akan efektif jika pengaturan tempat
duduk mempertimbangkan mobilisasi guru saat mengajar. Akses guru dari satu
kelompok kekelompok lain tidak hanya memudahkan guru dalam memantau kerja
peserta didik. Interval kelompok dapat pula berfungsi sebagai arah evakuasi.
Eksperimen senantiasa mengarah pada aspek keterampilan. Obeservasi menjadi cara
yang paling mudah dilakukan. Akan tetapi untuk memahami prosedural parktikum,
evaluasi pembelajarannya dapat menggunakan tes keterampilan. Hasil tes belajar
itu dapat menjadi tambahan untuk mengetahui kemampuan aspek keterampilan
peserta didik. Jika diperlukan dan dapat dilakukan penilaian ini dapat pula
dilakukan melalui pengamatan unjuk kerja saat kegiatan pembelajaran
berlangsung. Inilah solusi untuk menjawab permasalahan yang terjadi di sekolah
dalam pembelajaran.
Sumber : https://www.gurusiana.id/read/suhardin/article/eksperimen-sains-murali-2894131
dan https://suhardin.gurusiana.id/article
Pembahasan topik proyek ini sangat alot. Tiga kali Voting belum bisa menghasilkan kesepakatan kelas. Beberapa kali usul dan sanggah dari kawan-kawanku membuat kesepakatan baru harus dilakukan. Setelah diskusi yang panjang maka guruku mulai mengambil jalan tengah untuk memberikan solusi. Kawan-kawanku yang senang menari tetap bersikukuh untuk menampilkan performen mereka. Sedangkan kawan lain yang tidak bisa menari ingin untuk menyanyi saja.
Itulah suasana kelas saat itu. Mengakomodir keinginan itu disepakati ditampilkan keduanya dengan teknik kolaborasi tampilan. Ada yang menyanyi dan lainnya menari. Masing-masing mulai mengusulkan lagu yang sesuai untuk kedua kegiatan ini.
Kesepakatan ini ditetapkan dengan poin :
MENYANYI
Arjuki, Nazril, Apta, Fakhri, Adil, Azam, Malik, Ronal, Baim, Fahmi, Surya, Carli, Uliana, Qeyliana, Fauziyah, Selfia dan Hafidzah
MENARI
Sinta, Anita, Audelia, Azahra, Adeline, Amelia, Lailah
Permainan ini jika amati tidak asing. Diwilayah Indonesia namanya sangat beragam. Bagaimana permainan rakyat ini tersebat dengan sebutan yang berebda? Belum diketahui secara pasti. Permainan ini biasa disebut engrang secara umum. Ungkapan itu di Jawa Timur diartikan sebagai Jangkuan atau burung yang memiliki tungkai yang panjang. Namun beberapa sumber literatur yang dibaca, kata engrang berasal dari Bahasa Lampung yang bermakna terompa pancung karena terbuat dari bambu panjang berbentuk bulat.
Masyarakat Kendari sebagian mengenal permainan ini dengan sebutan O'Tinggo. Bahannya dapat berupa bambu atau kayu yang dibuat dengan pjakan pada bagian bawahnya.
Bandul merupakan alat sederhana dalam praktik getaran. Kita hanya membutuhkan tali atau benang kasur, mistar dan handphone atau timer. Bagaimana melakukannya? Ayo simak video berikut!
Klik link ini untuk melihat https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/sekolah-hebat/halaman-muka