Klik link ini untuk melihat https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/sekolah-hebat/halaman-muka
Laporan Pandangan Mata: Merawat Harapan, Menenun Hijau di Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari
Oleh: Tim Redaksi Buletin Digital Seventeen
Kendari, Juni 2026
Halo Sobat Seventeen!
Bagaimana kabar gawai dan semangat kalian hari ini? Semoga secerah langit Kendari ya! Hari ini, Tim Buletin Digital Seventeen mengajak kalian semua untuk melepaskan pandangan sejenak dari layar ponsel dan beralih ke sudut hijau sekolah kita. Ya, apa lagi kalau bukan area penanaman Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari!
Tim kami baru saja melakukan pemantauan langsung di lapangan, dan jujur saja, ada rasa hangat dan bangga yang membuncah saat melihat perkembangan proyek hijau kita ini. Yuk, ikuti laporan pandangan mata kami!
Dari Tunas Kecil, Kini Mulai Belajar Berbuah
Ingatkah kalian beberapa minggu lalu saat kita bersama-sama menyemai dan merawat bibit cabe kecil (cabe rawit) di tanah sekolah kita? Berkat cucuran keringat dan kepedulian kita semua, pemandangan di area kebun kini sudah berubah drastis.
Sejauh mata memandang, rona hijau dedaunan tampak begitu menyegarkan. Dan tebak apa? Saat kami mendekat, sebagian besar tanaman cabe kecil kita sudah mulai menampakkan bunga-bunga putih yang cantik, bahkan beberapa di antaranya sudah belajar berbuah! Menyaksikan buah-buah cabe hijau kecil yang mulai menyembul di antara dedaunan itu rasanya seperti melihat adik bayi yang baru belajar berjalan—menggemaskan sekaligus bikin bangga!
"Melihat bunga-bunga itu mekar, rasanya semua lelah setelah pulang kelas langsung hilang. Ini bukti kalau usaha kita tidak mengkhianati hasil!" ujar salah satu siswa yang sedang menyiram tanaman.
Realita di Lapangan: Perjuangan Melawan Hama dan Gulma
Namun, Sobat Seventeen, berkebun tentu bukan cerita tentang keberhasilan instan. Alam selalu punya cara untuk menguji kesabaran kita. Dalam pantauan kami, harus diakui bahwa tidak semua tanaman tumbuh dengan optimal. Ada beberapa titik tanaman yang tampak kerdil atau daunnya sedikit menguning. Tapi tenang, Tim Adiwiyata dan teman-teman kita tidak tinggal diam! Berbagai upaya penyelamatan terus digalakkan secara konsisten:
Pemupukan Berkala: Nutrisi tambahan terus diberikan agar tanaman yang tertinggal bisa mengejar ketertinggalannya.
Pembasmian Hama: Pengawasan ketat dilakukan untuk menghalau kutu daun dan ulat yang nakal.
Pembersihan Gulma: Rumput liar yang berebut makanan dengan tanaman cabe kita dicabut secara rutin.
Kita harus paham bahwa dalam satu ekosistem, wajar jika ada yang tumbuh cepat dan ada yang butuh perhatian ekstra. Yang terpenting adalah komitmen kita untuk tidak menyerah pada tanaman yang kurang optimal tersebut.
Kegembiraan yang Tak Ternilai
Dibalik dinamika pasang surut tersebut, ada satu hal yang paling berharga: rasa gembira dan kebersamaan kita. Melihat usaha mandiri seluruh warga SMPN 17 Kendari mulai menampakkan hasil nyata adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Program Sekolah Hebat ini bukan sekadar tentang memanen cabe, tapi tentang memanen karakter peduli lingkungan, kerja keras, dan rasa tanggung jawab.
Yuk, Jaga Bersama Hijau Sekolah Kita!
Sobat Seventeen, tanaman-tanaman cabe ini adalah aset kita, simbol dari kerja keras kolektif kita. Tanaman yang subur berkat rawatan kita, dan yang kurang optimal menanti uluran tangan kita.
Oleh karena itu, yuk kita luangkan waktu, minimal dengan tidak mengganggu atau merusak area steril tanaman. Jikalau lewat dan melihat ada rumput liar atau hama, jangan segan untuk mencabutnya. Mari kita kawal proses ini bersama-sama sampai hari panen raya tiba!
[SPECIAL UPDATE] Merah Merona di Lahan Kita: Cabe Besar SMPN 17 Kendari Siap Panen Raya!
Oleh: Tim Redaksi Buletin Digital Seventeen
Kendari, Juni 2026
Sejauh Mata Memandang: Barisan "Raksasa" yang Sempurna
Berbeda dengan beberapa petak tanaman lain yang masih butuh perawatan ekstra, blok cabe besar (lombok besar) kita menunjukkan performa yang juara dunia! Tim kami yang turun ke lapangan dibuat takjub melihat pertumbuhan tanaman yang begitu seragam, kokoh, dan sehat.
Tidak ada kata "kerdil" di sini. Semua tanaman tumbuh tegak memamerkan daun hijau pekat yang lebar. Dan yang paling bikin gagal fokus? Buah-buah cabe besar itu! Mereka sudah bergelantungan dengan berat, mengkilap terkena sinar matahari, dan beberapa sudah mulai berubah warna dari hijau tua menjadi kemerahan.
"Ini mah tinggal hitungan hari menuju panen!" celetuk salah satu anggota tim kami saat melihat ukuran cabe yang panjang dan berisi.
Euforia di Kebun: Senyum yang Tak Bisa Disembunyikan
Sobat Seventeen, tahu tidak apa yang lebih indah dari melihat buah cabe yang lebat? Jawabannya adalah melihat wajah-wajah bahagia teman-teman kita.
Suasana di kebun sekolah belakangan ini terasa sangat berbeda. Ada aura kegembiraan yang menular. Setiap pagi dan sore, siswa-siswa yang bertugas merawat tampak begitu bersemangat. Rasa lelah menyiram dan mencangkul seolah menguap begitu saja saat mereka memegang langsung buah lombok yang sebentar lagi siap dipetik.
"Jujur, rasanya puas banget! Kemarin-kemarin kita cuma lihat di internet cara menanamnya, sekarang buahnya beneran ada di depan mata dan tumbuh subur semua. Kami sudah tidak sabar mau panen bareng-bareng!" — Rani, Siswa Kelas 8.
Bukan cuma Rani, hampir semua siswa yang lewat di area ini pasti akan berhenti sejenak, berdecak kagum, atau bahkan melakukan selfie dengan latar belakang cabe yang lebat. Keberhasilan ini benar-benar menjadi mood booster bagi seluruh warga SMPN 17 Kendari
Setelah kita disuguhkan pemandangan indah dari cabe kecil dan cabe besar, kali ini Tim Buletin Digital Seventeen membawa laporan yang penuh inspirasi dan perjuangan dari blok Tanaman Tomat. Seperti yang kita tahu, cuaca di Kendari beberapa hari terakhir ini sedang tidak menentu, bahkan curah hujan yang tinggi sempat membuat area kebun sekolah kita tergenang banjir.
Namun, tebak apa yang terjadi? Alih-alih layu, tanaman tomat kita justru menunjukkan mental juara!
Si Hijau yang Tangguh: Melawan Hujan Lebat dan Banjir
Banjir dan empasan hujan lebat boleh saja datang, tetapi tanaman tomat Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari menolak untuk menyerah. Berkat struktur tanah yang dirawat dengan baik dan kesigapan teman-teman dalam membenahi drainase pasca-banjir, keajaiban itu benar-benar terjadi.
Saat kami melakukan pantauan mata hari ini, batang-batang pohon tomat berdiri dengan sangat kokoh. Pertumbuhan batangnya begitu kekar seolah mencengkeram bumi dengan kuat. Tidak hanya itu, daun-daunnya tumbuh sangat lebat, hijau segar, dan bebas dari kerusakan berarti akibat badai.
Yang paling membuat kami berdecak kagum adalah di balik rimbunnya daun-daun lebat itu, kuncup-kuncup bunga kuning kecil mulai bermunculan dengan indahnya! Ini adalah simbol kehidupan dan kemenangan kecil atas cuaca ekstrem yang sempat melanda sekolah kita.
Usaha Tanpa Henti dan Untaian Doa para Siswa
Ketangguhan tanaman tomat ini tidak lepas dari "tangan dingin" dan ketulusan hati para siswa SMPN 17 Kendari. Melihat kebun mereka sempat diterpa banjir, teman-teman kita tidak tinggal diam atau pasrah. Mereka justru makin gencar bergerak: mengikat batang tomat ke bilah bambu (ajir) agar tidak roboh, membersihkan sisa lumpur, dan memastikan akar tanaman tidak membusuk.
Namun, di samping usaha keras fisik tersebut, ada hal menyentuh yang kami temukan di lapangan. Di sela-sela waktu merawat tanaman, terdengar untaian harapan dan doa yang tulus dari para siswa.
"Setiap kali menyiram dan melihat bunganya mulai tumbuh setelah banjir kemarin, kami selalu menyelipkan doa. Kami berharap cuaca bisa lebih bersahabat ke depannya dan Tuhan memberkati kerja keras kami, agar dalam waktu dekat, tomat-tomat ini bisa berbuah lebat dan segera kami panen," ungkap salah satu siswa dengan mata berbinar penuh harap.
Melihat dedikasi yang begitu besar, rasanya tidak berlebihan jika kita optimis bahwa buah-buah tomat yang ranum akan segera menghiasi kebun kita dalam waktu dekat.
Mari Jaga Harapan Ini Bersama!
Sobat Seventeen, tanaman tomat ini adalah guru kehidupan bagi kita semua. Mereka mengajarkan bahwa sekeras apa pun badai dan ujian yang menerpa (bahkan banjir sekalipun), selama kita memiliki akar yang kuat dan dirawat dengan kasih sayang, kita akan tetap berdiri tegak dan tumbuh berbunga.
Mari kita aminkan bersama doa teman-teman kita. Tetap jaga barisan, bantu awasi kebun sekolah kita setelah hujan mereda, dan mari kita tunggu bersama momen manis saat buah tomat pertama mulai ranum dan siap dipetik!
Sampai jumpa di laporan pandangan mata berikutnya!
SMPN 17 Kendari? Hebat, Tangguh, Pantang Menyerah!
Buletin Digital Seventeen? Setia Menemani Setiap Jengkal Perjuangan Kita!
Hari ini, sekolah secara resmi menyerahkan medali dan piagam penghargaan kepada tiga siswa tangguh yang sukses mengharumkan nama sekolah di bidang olahraga bela diri. Siapa saja mereka? Yuk, kita kenalan dengan para juara kita!
Ajang: Kejuaraan Pencak Silat Anoa Championship 2 (Kelas E 42-45 kg)
Tempat & Waktu: GOR KONI SULTRA, 30 April – 3 Mei 2026
Prestasi: Juara 1 (Medali Emas)
Membuka rentetan prestasi, ada Nur Azizah dari kelas 8.6 yang sukses menaklukkan gelanggang pencak silat. Bertarung di kelas E, Azizah berhasil membawa pulang podium tertinggi.
"Perasaan saya sangat gembira saat meraih juara 1 bersama tim-tim saya," ungkap Azizah dengan senyum sumringah.
Work hard, play hard! Kerja keras latihan fisik dan kekompakan tim akhirnya dibayar tuntas dengan medali emas di dada. Congrats, Azizah!
Ajang: Kejuaraan Taekwondo Tingkat Nasional
Tempat & Waktu: Universitas Halu Oleo (UHO), 24 Mei 2026
Klub: Predator Balkot
Prestasi: Juara 2 (Medali Perak) di Kelas 43 kg
Dari cabang Taekwondo, atlet muda kita Selfi Widarma Putri baru saja menyelesaikan pertarungan sengit berskala nasional kemarin! Menghadapi lawan terberat yang berasal dari tuan rumah (UHO), Selfi menunjukkan mental baja dan berhasil mengamankan posisi kedua.
Meski langkahnya terhenti selangkah menuju emas, semangat Selfi tidak luntur sama sekali. Target ke depannya? Menjadi jauh lebih baik dan terus berkembang.
"Semangat Kakak Selfi! Menang kalah tidak apa-apa, yang penting pengalaman dan tekad untuk jadi lebih baik selalu ada!"
Ajang: Kejuaraan Taekwondo Tingkat Kota Sekota Kendari
Tempat & Waktu: Universitas Halu Oleo (UHO), 23 Mei 2026
Prestasi: Juara 2 (Medali Perak) di Kelas 46 kg
Tak kalah membanggakan, Gede Deval dari kelas 7.2 juga berhasil menyumbang medali perak di kejuaraan taekwondo tingkat kota. Mengalungkan medali dan memegang sertifikat di podium upacara hari ini membuat Deval bersyukur, namun ia sudah memasang target baru.
"Saya sangat senang ketika mendapat medali ini, tapi nanti saya akan berusaha lagi untuk juara 1!" ujar Deval penuh optimisme.
Satu hal yang bikin Deval makin semangat adalah dukungan penuh dari sang ayah tercinta. Pesan ayahnya selalu terngiang:
"Tingkatkan lagi, pasti bisa meraih juara 1. Ayah dukung kamu!" ---
Prestasi Nur Azizah, Selfi, dan Deval adalah bukti nyata bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Baik itu medali emas maupun perak, semuanya adalah buah dari tetesan keringat dan kedisiplinan.
Semoga prestasi mentereng di bidang Pencak Silat dan Taekwondo ini bisa menjadi pemantik semangat bagi seluruh warga Seventeen untuk terus menggali potensi diri.
Selamat kepada para pemenang! Teruslah bersinar dan menginspirasi!
Link Laporan Program Sekolah Hebat - Mei 2026
https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/sekolah-hebat/halaman-muka
@sekolahhebat
#bankindonesia
Oleh: Aleron (Kelas IX.1 / Pemain Tim Voli Seventeen)
Perjalanan panjang penuh keringat dan semangat baru saja usai. Sejak tanggal 20 April hingga 26 April 2026, tim bola voli kita berjuang dalam kejuaraan bergengsi SMK Tunas Husada Cup tingkat SMP se-Kota Kendari. Sebagai salah satu pemain, saya merasakan betul betapa ketatnya persaingan tahun ini karena setiap sekolah memiliki potensi yang sangat merata.
Langkah awal kami tidaklah mulus. Pada pertandingan pembuka, kami harus menelan pil pahit setelah dikalahkan oleh SMPN 19 Kendari. Namun, kekalahan itu tidak mematahkan semangat kami. Terbukti pada laga berikutnya, kami bangkit dan berhasil menumbangkan SMPN 5 Kendari.
Momentum kemenangan berlanjut hingga babak semifinal. Lewat kerja sama tim yang solid, kami berhasil mengandaskan perlawanan SMPN 12 Kendari dan mengamankan tiket menuju babak final.
Babak final kembali mempertemukan kami dengan rival kuat, SMPN 19 Kendari. Pertandingan ini benar-benar menguji mental dan kematangan kami. Atmosfer lapangan terasa sangat tegang. Kami sempat memberikan perlawanan sengit dan mengimbangi permainan mereka di set awal.
Namun, keberuntungan belum berpihak pada kami di set-set berikutnya. Setelah melalui duel yang menguras tenaga, kami harus mengakui keunggulan lawan dengan skor akhir 3-1.
Meskipun harus puas di posisi kedua, Juara 2 adalah hasil yang sangat kami syukuri. Ini adalah buah dari usaha keras dan dedikasi seluruh anggota tim.
"Kekalahan di final bukanlah akhir, melainkan pembelajaran berharga. Kami menyadari bahwa untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, kami harus berlatih lebih giat lagi."
Terima kasih atas dukungan dari Bapak Pembina dan seluruh teman-teman di sekolah. Kami berjanji akan kembali dengan versi yang lebih kuat di turnamen berikutnya!
Lapangan SMPN 17 Kendari Senin (6/3) begitu meriah akibat prestasi silat dari Nabila. Dia dibuatkan acara khusus saat upacara atas prestasi yang diraihnya. Tepatnya di kelas 8.6, seorang gadis bernama Nur Azizah Nabila Marsya mungkin terlihat seperti siswi biasa. Namun, di balik senyumnya, tersimpan mental baja seorang petarung yang baru saja menaklukkan rasa ragu dan kerasnya gelanggang.
Perjalanan Nabila tidaklah instan. Sejak Januari 2026, ketika teman-temannya mungkin masih menikmati sisa liburan, Nabila sudah mulai berpeluh. Di bawah bimbingan pelatihnya, Adam Malik, ia menempa fisik dan teknik setiap hari. Persiapan intensif selama lebih dari satu bulan itu adalah fondasi dari keberanian yang ia tunjukkan kemudian.
Kepala Sekolah, saat meyerahkan secara simbolis piagan dan medali emas kepada Nabila
Puncaknya terjadi pada 13-15 Februari lalu. Bertempat di kantor Dinas Kehutanan Sulawesi Tenggara, Kejuaraan Silat Daerah tingkat Provinsi pun digelar. Nabila turun di Kelas E (40-44 kg), sebuah kelas yang penuh dengan persaingan sengit.
Ketegangan menyelimuti setiap langkahnya. Untuk mencapai puncak, Nabila harus melewati tiga pertandingan berturut-turut. Setiap lawan memiliki ambisi yang sama, namun Nabila memiliki tekad yang lebih kuat. Dengan disiplin dan instruksi dari pelatih, ia berhasil melaju hingga ke babak final.
Sebagai sahabat dekat, Musdalifah Irwan sempat merasa ragu. "Apakah Nabila bisa juara? Lawannya sangat berat," pikirnya dalam hati. Namun, keraguan itu punah seketika saat melihat Nabila berdiri di podium kemenangan.
Nabila berhasil membawa pulang: Medali emas Kemenangan itu Simbol fisik dari kerja keras dan tetesan keringat. Piagam Penghargaan menjadi Investasi berharga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA impiannya nanti.
"Bahagia bisa mengukir prestasi," ucap Nabila dengan mata berbinar saat berbincang dengan sahabatnya.
Kisah Nabila mengajarkan kita bahwa keraguan orang lain, bahkan keraguan dari sahabat sendiri, bukanlah penghalang, melainkan tantangan untuk dibuktikan. Dengan persiapan matang dan keberanian untuk melangkah, siswa SMP dari Kendari ini membuktikan bahwa perempuan kuat bukan mereka yang tidak punya rasa takut, melainkan mereka yang mampu melampaui rasa takutnya.
Teruslah menginspirasi, Nabila! Dan teruslah menjadi pendukung setia, Musdalifah!
SMPN 17 Kendari – Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H, SMPN 17 Kendari sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan religius bertajuk "Pesantren Ramadan dan Berbagi Berkah". Kegiatan yang dirancang sebagai sarana pembelajaran karakter ini resmi dibuka pada 23 Februari 2026 di lapangan upacara SMPN 17 Kendari.
Selama tiga hari penuh, seluruh siswa dari kelas VII hingga IX mengikuti rangkaian agenda yang padat makna. Tidak hanya sekadar rutinitas, kegiatan ini menjadi laboratorium spiritual bagi para siswa untuk memperdalam pemahaman agama.
Untuk memastikan pembelajaran yang efektif, pihak sekolah membagi pemateri ke dalam 21 kelas. Para guru menyampaikan materi klasikal yang meliputi:
Muamalah & Fiqih: Memahami tata cara berinteraksi dan hukum Islam.
Ibadah & Praktik Salat: Mempertajam bacaan salat wajib serta memperbaiki tata cara ibadah harian.
Tadarus Al-Qur'an: Melantunkan ayat suci bersama untuk memperlancar bacaan siswa.
Puncak dari pembelajaran ini adalah implementasi nilai berbagi. Para siswa secara sukarela membawa bahan kebutuhan pokok untuk disalurkan kepada teman sejawat maupun masyarakat di lingkungan luar sekolah.
Kepala SMPN 17 Kendari, Bapak Suaidin, dalam arahannya menekankan bahwa penyerahan bantuan secara simbolis di lapangan hanyalah langkah awal.
"Menanamkan jiwa sosial yang tinggi adalah cara kita memaknai hidup dengan berbagi terhadap sesama. Saya berharap nilai-nilai baik ini terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan aksi berbagi ini akan terus berlanjut di ruang-ruang kelas," ujar Beliau.
Semangat berbagi tidak berhenti di lingkungan sekolah. Pada 6 Maret 2026, keluarga besar SMPN 17 Kendari menyambangi kawasan Tugu Religi Sultra untuk membagikan paket takjil buka puasa.
Kegiatan ini menjadi momen spesial bagi pengurus OSIS yang baru saja dilantik. Bersama para guru, mereka terjun langsung menyapa masyarakat, sekaligus melatih kemampuan manajerial dan empati sejak dini.

Bumi Seventeen – Aroma semangat menyelimuti lapangan upacara SMPN 17 Kendari pada Jumat pagi, 13 Februari 2026. Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, sebuah babak baru bagi organisasi siswa resmi dimulai.
Setelah melalui proses pemilihan yang sengit seminggu sebelumnya, pasangan Syafira Dwi Oktaviani (8.5) dan Muhammad Rafa Oktoperdana (8.7) akhirnya mengukuhkan kemenangan mereka. Keduanya resmi dilantik sebagai Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 17 Kendari masa bakti 2026/2027.
Acara pelantikan ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Bapak Suhaidin, S.Pd., M.Pd., dalam sebuah upacara kebesaran yang dihadiri oleh seluruh staf, dewan guru, serta ratusan siswa yang menyaksikan dengan khidmat.
Momen sakral terjadi saat pengucapan sumpah jabatan. Syafira, Rafa, beserta seluruh jajaran pengurus baru berikrar untuk mendedikasikan diri bagi sekolah. Prosesi simbolis pun berlanjut ketika Revan, Ketua OSIS periode sebelumnya, menyerahkan bendera OSIS kepada Kepala Sekolah, yang kemudian diteruskan kepada Syafira.
"Penyerahan bendera ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol estafet tanggung jawab besar untuk membawa nama baik SMPN 17 Kendari lebih tinggi lagi," ujar salah satu guru pembina di sela upacara.
Dalam amanatnya, Bapak Suhaidin mengungkapkan rasa bangga atas terbentuknya kepengurusan baru ini. Beliau menitipkan dua pesan penting bagi Syafira dan timnya:
Realisasi Visi-Misi: Janji-janji kampanye bukan sekadar hiasan kata, melainkan harus diwujudkan dalam program kerja nyata.
Penggerak Sekolah Lingkungan: Sebagai sekolah yang peduli lingkungan, pengurus OSIS wajib menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan budaya hijau dan kebersihan di lingkungan sekolah.
Tim buletin Seventeen sempat menemui Revan (IX.2) sesaat setelah upacara usai. Meski telah purnabakti, tersirat raut lega dan harapan besar di wajahnya.
"Saya berharap teman-teman pengurus yang baru bisa bekerja lebih solid. Teruskan program yang sudah baik dan jangan takut untuk berinovasi mengembangkan program-program baru yang lebih kreatif," ungkap Revan dengan penuh keyakinan.Upacara pelantikan yang penuh haru dan optimisme ini ditutup dengan pembacaan doa bersama, memohon kelancaran bagi kepengurusan OSIS setahun ke depan.
Oleh: Umar Redaksi Buletin Seventeen
KENDARI – Matahari pagi baru saja meninggi, namun semangat demokrasi sudah membara di lapangan SMPN 17 Kendari. Hari ini, Kamis (5/2/2026), sekolah kita menggelar pesta demokrasi akbar: Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2026-2027. Dimulai tepat pukul 07.30 WITA, seluruh warga sekolah berkumpul untuk menentukan arah kepemimpinan satu tahun ke depan.
Pemilihan tahun ini bukan sekadar rutinitas. Dengan prinsip Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia (LUBER), panitia menyediakan tiga bilik suara yang menjadi saksi bisu penentuan nasib organisasi kesiswaan kita. Proses pemungutan suara diatur dengan tertib per kelas, diawali oleh teladan dari Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan jajaran dewan guru, sebelum akhirnya diteruskan oleh siswa kelas 7 hingga kelas 9.
Tiga pasangan calon terbaik bangsa (versi Spensel!) telah memberikan orasi dan dedikasi terbaik mereka selama masa kampanye. Siapakah yang akan meneruskan tongkat estafet dari Revan dan Syahrini? Inilah para kandidat kita:
Pasangan Nomor Urut 1: Muh. Rafa Octo Perdana & Safira
Pasangan Nomor Urut 2: Nisa Wulandari & Evelyn A.K
Pasangan Nomor Urut 3: Khalifah & Asyifah
Siapa pun yang terpilih nanti, tugas besar telah menanti untuk membawa OSIS SMPN 17 Kendari semakin bersinar hingga tahun 2027 mendatang.
Kami, Tim Redaksi Buletin Seventeen, juga tak kalah sibuk! Sejak bel masuk berbunyi, kru kami telah menyebar di setiap sudut lapangan. Mulai dari sesi wawancara cegat (doorstop) dengan para calon yang tampak tegang namun optimis, hingga memotret momen-momen ikonik saat tinta biru membasahi jari para pemilih.
"Ini adalah pembelajaran demokrasi yang nyata bagi kami. Bukan soal siapa yang menang, tapi bagaimana kita menghargai perbedaan pilihan dalam satu harmoni," ujar salah satu anggota tim liputan kami di sela-sela kegiatannya.
Catatan Redaksi: Siapapun pemenangnya, OSIS adalah milik kita bersama. Mari dukung visi misi mereka demi SMPN 17 Kendari yang lebih berprestasi!
Oleh: Tim Redaksi Buletin Seventeen
KENDARI – Halaman SMPN 17 Kendari tampak berbeda pada Jumat pagi (23/01/2026). Ratusan siswa berseragam rapi duduk bersimpuh dalam kekhusyukan, mengawali hari dengan lantunan doa dalam salat Duha berjamaah. Momen religius ini merupakan pembuka dari peringatan Isra Miraj Nabi Besar Muhammad SAW yang digelar rutin setiap tahunnya.
Kepala SMPN 17 Kendari, Bapak Suhaidin, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial kalender hijriah.
"Ini adalah bagian dari komitmen kita untuk membentuk karakter siswa. Kegiatan rutin seperti ini sangat penting dilakukan secara berkesinambungan demi meningkatkan akhlak dan budi pekerti siswa. Kita ingin mereka tumbuh menjadi generasi cemerlang di masa mendatang yang tidak hanya cerdas intelektual, tapi juga matang secara spiritual," ujar beliau dengan optimis.
Puncak acara diisi dengan uraian hikmah yang sangat menyentuh dari Ustaz Sukri Syamsudin. Beliau menekankan bahwa inti dari peristiwa Isra Miraj adalah perintah salat lima waktu.
Ustaz Sukri membedah secara mendalam mengapa salat menjadi kebutuhan vital, bukan sekadar kewajiban:
Dimensi Duniawi (Disiplin dan Ketenangan): Beliau menjelaskan bahwa salat adalah latihan manajemen waktu terbaik. Siswa yang menjaga salatnya cenderung memiliki kedisiplinan tinggi. Selain itu, salat merupakan sarana "istirahat" sejenak dari hiruk-pukuk duniawi, memberikan ketenangan batin yang berpengaruh positif pada konsentrasi belajar.
Dimensi Ukhrawi (Bekal Abadi): Salat disebut sebagai amalan pertama yang akan dihisab. Ustaz Sukri mengingatkan bahwa keberhasilan di akhirat sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga hubungan dengan Sang Pencipta melalui sujud lima kali sehari.
Implementasi Akhlak: Salat yang benar, menurut Ustaz Sukri, harus terpermin dalam perilaku sehari-hari. Jika salatnya baik, maka tutur kata dan sikap siswa kepada guru serta orang tua pun akan ikut membaik (mencegah perbuatan keji dan mungkar).
Suasana pagi yang sejuk menambah kekhidmatan para siswa dalam menyerap setiap pesan yang disampaikan. Dengan adanya peringatan ini, Buletin Seventeen berharap semangat Isra Miraj terus mengalir dalam setiap langkah siswa SMPN 17 Kendari, menjadikan salat sebagai tiang utama dalam meraih cita-cita.
Redaksi: Tim Buletin Seventeen
Pagi itu, pada pukul 07.00, udara masih terasa sejuk di lingkungan sekolah. Bel tanda dimulainya pelajaran pertama telah berbunyi, dan suasana di luar kelas VIII.I sedikit berbeda dari biasanya. Kami, enam siswa yang tergabung dalam satu kelompok, telah berkumpul di depan kelas, bersiap untuk melaksanakan praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kelompok kami terdiri dari saya sendiri, Nurma, Wulan, Bintang, Dzaky, dan Nazwan. Kegiatan diawali dengan game. Mengisi TTS dari penutup botol. Keseruan sangat terasa ketika berkompetisi antar kelompok.
Guru IPA kami, Pak Suhardin, dengan senyumnya yang khas, sudah berada di tengah-tengah kami. Beliau adalah guru yang selalu mendorong kami untuk belajar melalui praktik langsung. Praktikum kami hari ini adalah tentang Penyaringan Air Sederhana. Persiapan untuk praktikum ini sudah kami lakukan jauh-jauh hari. Sesuai instruksi Pak Suhardin, setiap anggota kelompok wajib membawa satu botol plastik bekas air mineral berukuran sedang (spesifiknya, botol Le Mineral) yang sama).
Selain itu, kami juga bertugas mengumpulkan satu genggam pasir dan satu genggam kerikil. Kami telah mencuci material ini hingga benar-benar bersih dan mengeringkannya di bawah terik matahari, memastikan semuanya steril dan siap pakai. Di atas meja yang kami gunakan, semua bahan dan alat sudah tertata rapi.
Apa saja bahannya? Enam botol plastik Le Mineral (masing-masing botol memiliki tutup botol, satu ditutup tanpa lubang dan satu lagi dilubangi kecil). Ada pula kerikil, pasir yang sudah dicuci dan dikeringkan, kapas, air keruh (yang akan kami saring). Bagaimana dengan Alatnya? Kami menyiapkan gunting, mistar, dan buku catatan untuk hasil pengamatan.
Pak Suhardin membuka sesi dengan mengingatkan kami tujuan dari kegiatan ini yakni memahami prinsip dasar pemisahan zat melalui filtrasi dengan memanfaatkan material alami.
"Anak-anak, hari ini kita akan membuat alat penjernih air mini. Perhatikan langkah-langkahnya dengan teliti. Tujuan kita adalah melihat seberapa efektif susunan material ini dapat mengubah air keruh menjadi air yang lebih jernih," Jelas Pak Suhardin.
Kami mulai bekerja. Bintang dan Dzaky bertugas memotong bagian bawah botol plastik dengan hati-hati menggunakan gunting, sementara Wulan dan Nurma memastikan botol lainnya diposisikan terbalik. Tutup botol yang sudah dilubangi kecil dipasang pada botol yang akan dijadikan alat penyaring. Langkah berikutnya adalah menyusun lapisan material di dalam botol yang dibalik. Berdasarkan petunjuk, urutannya harus tepat.
Saya bertugas memasukkan kapas sebagai lapisan paling bawah (menempel pada tutup botol yang berlubang). Kapas berfungsi sebagai media penahan pertama. Setelah itu, Nurma memasukkan lapisan kerikil yang cukup tebal. Di atas kerikil, Wulan menyusul dengan lapisan pasir yang sudah bersih dan kering. Susunan ini diulang hingga hampir memenuhi badan botol, dengan Nazwan memastikan setiap lapisan dipadatkan dengan merata.
Alat penyaring sederhana kami pun siap. Kami menempatkan botol penyaring ini di atas botol lainnya yang berfungsi sebagai penampung air hasil saringan (filtrat). Dzaky bertugas menuangkan air keruh secara perlahan ke dalam alat penyaring buatan kami. Seketika, air keruh mulai meresap melalui lapisan pasir, kerikil, dan kapas. Kami semua menahan napas, mata kami tertuju pada tetesan air yang mulai keluar dari lubang tutup botol.
Air yang menetes ke botol penampung terlihat jauh lebih jernih dari air keruh yang kami tuangkan. Meski belum sepenuhnya bening seperti air minum, perubahan kejernihan airnya sangat signifikan. Nazwan dengan sigap mulai mencatat hasil pengamatan di buku. Kami mendiskusikan perbedaan warna, kekeruhan, dan kecepatan air menetes. Kami menggunakan mistar untuk memperkirakan ketebalan setiap lapisan material yang kami buat.
"Coba bandingkan dengan air yang kalian tuangkan, Nak." Kata Pak Suhardin sambil menunjuk ke kedua botol. "Lapisan material ini memerangkap partikel-partikel padat penyebab keruhnya air. Ini adalah demonstrasi sederhana dari proses filtrasi."
Rasa antusias dan puas terpancar dari wajah kami. Praktikum di pagi hari itu bukan hanya sekadar tugas, tetapi pengalaman nyata yang mengajarkan kami tentang ilmu alam dan pentingnya kerja sama tim. Pukul 08.20, ketika praktikum selesai, kami membereskan alat dan bahan dengan rasa bangga akan hasil karya sederhana kami.
Pada hari Kamis 4 Desember 2025, saya mendapat kesempatan untuk mewakili sekolah dalam kegiatan lomba poster digital di Balai Kota Kendari. Awalnya saya sempat mengira acara tersebut adalah pengumuman pemenang, tetapi ternyata itu adalah rangkaian kegiatan peringatan Hari Anti Korupsi yang diikuti oleh banyak pelajar dari berbagai sekolah.
Saat tiba di Balai Kota, suasana acara sangat meriah. Setelah registrasi peserta, kami diarahkan masuk ke aula utama. Di sana acara dibuka dengan sambutan dari para pejabat pemerintah. Setelah itu, ada penampilan drama dan nyanyian bertema anti korupsi yang dibawakan oleh beberapa sekolah. Drama itu menggambarkan bagaimana korupsi dapat merusak masa depan bangsa, sedangkan nyanyiannya mengajak semua orang untuk menjaga kejujuran.
Saya merasa bangga karena poster saya yang berjudul “Ayo Lawan Korupsi, Selamatkan Masa Depan Bangsa” dipajang bersama karya peserta lainnya. Posternya menggunakan warna merah putih dan berisi ajakan untuk menghentikan korupsi. Saya menggambarkan siswa-siswa yang membawa pesan kejujuran, tangan terborgol sebagai simbol hukuman bagi pelaku korupsi, serta tulisan “Berani Jujur Itu Hebat” agar mudah menginspirasi orang yang melihat.
Walaupun suasananya sempat membuat saya gugup, saya tetap berusaha percaya diri. Di akhir acara, panitia akhirnya mengumumkan pemenang lomba poster digital. Alhamdulillah, saya berhasil meraih Juara Harapan 3. Saya sangat bersyukur dan bangga karena usaha saya membuat poster selama ini tidak sia-sia.
Mengikuti lomba ini membuat saya belajar bahwa menjaga kejujuran itu penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masa depan negara. Pengalaman ini akan selalu saya ingat sebagai motivasi agar saya terus berkarya dan berprestasi.
Klik link ini untuk melihat https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/sekolah-hebat/halaman-muka