Senin, 16 Februari 2026

Syafira dan Rafa Resmi Nahkodai OSIS SMPN 17 Kendari

Bumi Seventeen – Aroma semangat menyelimuti lapangan upacara SMPN 17 Kendari pada Jumat pagi, 13 Februari 2026. Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, sebuah babak baru bagi organisasi siswa resmi dimulai.

Setelah melalui proses pemilihan yang sengit seminggu sebelumnya, pasangan Syafira Dwi Oktaviani (8.5) dan Muhammad Rafa Oktoperdana (8.7) akhirnya mengukuhkan kemenangan mereka. Keduanya resmi dilantik sebagai Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 17 Kendari masa bakti 2026/2027.

Acara pelantikan ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Bapak Suhaidin, S.Pd., M.Pd., dalam sebuah upacara kebesaran yang dihadiri oleh seluruh staf, dewan guru, serta ratusan siswa yang menyaksikan dengan khidmat.

Momen sakral terjadi saat pengucapan sumpah jabatan. Syafira, Rafa, beserta seluruh jajaran pengurus baru berikrar untuk mendedikasikan diri bagi sekolah. Prosesi simbolis pun berlanjut ketika Revan, Ketua OSIS periode sebelumnya, menyerahkan bendera OSIS kepada Kepala Sekolah, yang kemudian diteruskan kepada Syafira.

"Penyerahan bendera ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol estafet tanggung jawab besar untuk membawa nama baik SMPN 17 Kendari lebih tinggi lagi," ujar salah satu guru pembina di sela upacara.

Dalam amanatnya, Bapak Suhaidin mengungkapkan rasa bangga atas terbentuknya kepengurusan baru ini. Beliau menitipkan dua pesan penting bagi Syafira dan timnya:

  1. Realisasi Visi-Misi: Janji-janji kampanye bukan sekadar hiasan kata, melainkan harus diwujudkan dalam program kerja nyata.

  2. Penggerak Sekolah Lingkungan: Sebagai sekolah yang peduli lingkungan, pengurus OSIS wajib menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan budaya hijau dan kebersihan di lingkungan sekolah.

Tim buletin Seventeen sempat menemui Revan (IX.2) sesaat setelah upacara usai. Meski telah purnabakti, tersirat raut lega dan harapan besar di wajahnya.

"Saya berharap teman-teman pengurus yang baru bisa bekerja lebih solid. Teruskan program yang sudah baik dan jangan takut untuk berinovasi mengembangkan program-program baru yang lebih kreatif," ungkap Revan dengan penuh keyakinan.

Upacara pelantikan yang penuh haru dan optimisme ini ditutup dengan pembacaan doa bersama, memohon kelancaran bagi kepengurusan OSIS setahun ke depan.


Oleh: Umar Redaksi Buletin Seventeen


Rabu, 04 Februari 2026

Suara Demokrasi di Lapangan Hijau: SMPN 17 Kendari Memilih Pemimpin Baru

 

KENDARI – Matahari pagi baru saja meninggi, namun semangat demokrasi sudah membara di lapangan SMPN 17 Kendari. Hari ini, Kamis (5/2/2026), sekolah kita menggelar pesta demokrasi akbar: Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2026-2027. Dimulai tepat pukul 07.30 WITA, seluruh warga sekolah berkumpul untuk menentukan arah kepemimpinan satu tahun ke depan.

Menjunjung Tinggi Asas LUBER

Pemilihan tahun ini bukan sekadar rutinitas. Dengan prinsip Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia (LUBER), panitia menyediakan tiga bilik suara yang menjadi saksi bisu penentuan nasib organisasi kesiswaan kita. Proses pemungutan suara diatur dengan tertib per kelas, diawali oleh teladan dari Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan jajaran dewan guru, sebelum akhirnya diteruskan oleh siswa kelas 7 hingga kelas 9.

Tiga Pasang Harapan

Tiga pasangan calon terbaik bangsa (versi Spensel!) telah memberikan orasi dan dedikasi terbaik mereka selama masa kampanye. Siapakah yang akan meneruskan tongkat estafet dari Revan dan Syahrini? Inilah para kandidat kita:

  • Pasangan Nomor Urut 1: Muh. Rafa Octo Perdana & Safira

  • Pasangan Nomor Urut 2: Nisa Wulandari & Evelyn A.K

  • Pasangan Nomor Urut 3: Khalifah & Asyifah

Siapa pun yang terpilih nanti, tugas besar telah menanti untuk membawa OSIS SMPN 17 Kendari semakin bersinar hingga tahun 2027 mendatang.

Dibalik Layar: Tim Redaksi Seventeen Meliput

Kami, Tim Redaksi Buletin Seventeen, juga tak kalah sibuk! Sejak bel masuk berbunyi, kru kami telah menyebar di setiap sudut lapangan. Mulai dari sesi wawancara cegat (doorstop) dengan para calon yang tampak tegang namun optimis, hingga memotret momen-momen ikonik saat tinta biru membasahi jari para pemilih.

"Ini adalah pembelajaran demokrasi yang nyata bagi kami. Bukan soal siapa yang menang, tapi bagaimana kita menghargai perbedaan pilihan dalam satu harmoni," ujar salah satu anggota tim liputan kami di sela-sela kegiatannya.


Catatan Redaksi: Siapapun pemenangnya, OSIS adalah milik kita bersama. Mari dukung visi misi mereka demi SMPN 17 Kendari yang lebih berprestasi!

Oleh: Tim Redaksi Buletin Seventeen

Minggu, 25 Januari 2026

PERUBAHAN TATA PELAKSANAAN UPACARA HARI SENIN



 

PERINGATAN ISRA MIRAJ NABI MUHAMMMAD SAW DI BUMI SEVENTEEN 2026

 


Gema Isra Miraj di SMPN 17 Kendari: Menjemput Cahaya Salat untuk Generasi Cemerlang

KENDARI – Halaman SMPN 17 Kendari tampak berbeda pada Jumat pagi (23/01/2026). Ratusan siswa berseragam rapi duduk bersimpuh dalam kekhusyukan, mengawali hari dengan lantunan doa dalam salat Duha berjamaah. Momen religius ini merupakan pembuka dari peringatan Isra Miraj Nabi Besar Muhammad SAW yang digelar rutin setiap tahunnya.

Kepala SMPN 17 Kendari, Bapak Suhaidin, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial kalender hijriah.

"Ini adalah bagian dari komitmen kita untuk membentuk karakter siswa. Kegiatan rutin seperti ini sangat penting dilakukan secara berkesinambungan demi meningkatkan akhlak dan budi pekerti siswa. Kita ingin mereka tumbuh menjadi generasi cemerlang di masa mendatang yang tidak hanya cerdas intelektual, tapi juga matang secara spiritual," ujar beliau dengan optimis.

Kajian Mendalam: Salat sebagai "Miraj" Mukmin

Puncak acara diisi dengan uraian hikmah yang sangat menyentuh dari Ustaz Sukri Syamsudin. Beliau menekankan bahwa inti dari peristiwa Isra Miraj adalah perintah salat lima waktu.

Ustaz Sukri membedah secara mendalam mengapa salat menjadi kebutuhan vital, bukan sekadar kewajiban:

  1. Dimensi Duniawi (Disiplin dan Ketenangan): Beliau menjelaskan bahwa salat adalah latihan manajemen waktu terbaik. Siswa yang menjaga salatnya cenderung memiliki kedisiplinan tinggi. Selain itu, salat merupakan sarana "istirahat" sejenak dari hiruk-pukuk duniawi, memberikan ketenangan batin yang berpengaruh positif pada konsentrasi belajar.

  2. Dimensi Ukhrawi (Bekal Abadi): Salat disebut sebagai amalan pertama yang akan dihisab. Ustaz Sukri mengingatkan bahwa keberhasilan di akhirat sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga hubungan dengan Sang Pencipta melalui sujud lima kali sehari.

  3. Implementasi Akhlak: Salat yang benar, menurut Ustaz Sukri, harus terpermin dalam perilaku sehari-hari. Jika salatnya baik, maka tutur kata dan sikap siswa kepada guru serta orang tua pun akan ikut membaik (mencegah perbuatan keji dan mungkar).

Menanam Benih Kebaikan

Suasana pagi yang sejuk menambah kekhidmatan para siswa dalam menyerap setiap pesan yang disampaikan. Dengan adanya peringatan ini, Buletin Seventeen berharap semangat Isra Miraj terus mengalir dalam setiap langkah siswa SMPN 17 Kendari, menjadikan salat sebagai tiang utama dalam meraih cita-cita.


Redaksi: Tim Buletin Seventeen

Senin, 22 Desember 2025

Cerita Refleksi Pembelajaran IPA Terbaik - Zahro Nur Aisyah - Menyaring Air dari Botol Plastik Bekas

 


Pagi itu, pada pukul 07.00, udara masih terasa sejuk di lingkungan sekolah. Bel tanda dimulainya pelajaran pertama telah berbunyi, dan suasana di luar kelas VIII.I sedikit berbeda dari biasanya. Kami, enam siswa yang tergabung dalam satu kelompok, telah berkumpul di depan kelas, bersiap untuk melaksanakan praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kelompok kami terdiri dari saya sendiri, Nurma, Wulan, Bintang, Dzaky, dan Nazwan. Kegiatan diawali dengan game. Mengisi TTS dari penutup botol. Keseruan sangat terasa ketika berkompetisi antar kelompok.

Guru IPA kami, Pak Suhardin, dengan senyumnya yang khas, sudah berada di tengah-tengah kami. Beliau adalah guru yang selalu mendorong kami untuk belajar melalui praktik langsung. Praktikum kami hari ini adalah tentang Penyaringan Air Sederhana. Persiapan untuk praktikum ini sudah kami lakukan jauh-jauh hari. Sesuai instruksi Pak Suhardin, setiap anggota kelompok wajib membawa satu botol plastik bekas air mineral berukuran sedang (spesifiknya, botol Le Mineral) yang sama). 

Selain itu, kami juga bertugas mengumpulkan satu genggam pasir dan satu genggam kerikil. Kami telah mencuci material ini hingga benar-benar bersih dan mengeringkannya di bawah terik matahari, memastikan semuanya steril dan siap pakai. Di atas meja yang kami gunakan, semua bahan dan alat sudah tertata rapi.

Apa saja bahannya? Enam botol plastik Le Mineral (masing-masing botol memiliki tutup botol, satu ditutup tanpa lubang dan satu lagi dilubangi kecil). Ada pula kerikil, pasir yang sudah dicuci dan dikeringkan, kapas, air keruh (yang akan kami saring). Bagaimana dengan Alatnya? Kami menyiapkan gunting, mistar, dan buku catatan untuk hasil pengamatan.

Pak Suhardin membuka sesi dengan mengingatkan kami tujuan dari kegiatan ini yakni memahami prinsip dasar pemisahan zat melalui filtrasi dengan memanfaatkan material alami.

"Anak-anak, hari ini kita akan membuat alat penjernih air mini. Perhatikan langkah-langkahnya dengan teliti. Tujuan kita adalah melihat seberapa efektif susunan material ini dapat mengubah air keruh menjadi air yang lebih jernih," Jelas Pak Suhardin.

Kami mulai bekerja. Bintang dan Dzaky bertugas memotong bagian bawah botol plastik dengan hati-hati menggunakan gunting, sementara Wulan dan Nurma memastikan botol lainnya diposisikan terbalik. Tutup botol yang sudah dilubangi kecil dipasang pada botol yang akan dijadikan alat penyaring. Langkah berikutnya adalah menyusun lapisan material di dalam botol yang dibalik. Berdasarkan petunjuk, urutannya harus tepat.

 Saya bertugas memasukkan kapas sebagai lapisan paling bawah (menempel pada tutup botol yang berlubang). Kapas berfungsi sebagai media penahan pertama.  Setelah itu, Nurma memasukkan lapisan kerikil yang cukup tebal. Di atas kerikil, Wulan menyusul dengan lapisan pasir yang sudah bersih dan kering. Susunan ini diulang hingga hampir memenuhi badan botol, dengan Nazwan memastikan setiap lapisan dipadatkan dengan merata.

Alat penyaring sederhana kami pun siap. Kami menempatkan botol penyaring ini di atas botol lainnya yang berfungsi sebagai penampung air hasil saringan (filtrat). Dzaky bertugas menuangkan air keruh secara perlahan ke dalam alat penyaring buatan kami. Seketika, air keruh mulai meresap melalui lapisan pasir, kerikil, dan kapas. Kami semua menahan napas, mata kami tertuju pada tetesan air yang mulai keluar dari lubang tutup botol.

Air yang menetes ke botol penampung terlihat jauh lebih jernih dari air keruh yang kami tuangkan. Meski belum sepenuhnya bening seperti air minum, perubahan kejernihan airnya sangat signifikan. Nazwan dengan sigap mulai mencatat hasil pengamatan di buku. Kami mendiskusikan perbedaan warna, kekeruhan, dan kecepatan air menetes. Kami menggunakan mistar untuk memperkirakan ketebalan setiap lapisan material yang kami buat.

"Coba bandingkan dengan air yang kalian tuangkan, Nak." Kata Pak Suhardin sambil menunjuk ke kedua botol.  "Lapisan material ini memerangkap partikel-partikel padat penyebab keruhnya air. Ini adalah demonstrasi sederhana dari proses filtrasi."

Rasa antusias dan puas terpancar dari wajah kami. Praktikum di pagi hari itu bukan hanya sekadar tugas, tetapi pengalaman nyata yang mengajarkan kami tentang ilmu alam dan pentingnya kerja sama tim. Pukul 08.20, ketika praktikum selesai, kami membereskan alat dan bahan dengan rasa bangga akan hasil karya sederhana kami.

Syafira dan Rafa Resmi Nahkodai OSIS SMPN 17 Kendari

Bumi Seventeen  – Aroma semangat menyelimuti lapangan upacara SMPN 17 Kendari pada Jumat pagi, 13 Februari 2026 . Di bawah sinar matahari pa...