GERAKAN PRAMUKA GUGUS DEPAN JENDRAL SUDIRMAN > SMP NEGERI 17 KENDARI > Jl. Mekar Jaya I, Kec. Kadia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
I. Judul Kegiatan
"Pelatihan Dasar Tali Temali (Pionering) Pembangunan Tiang Bendera Portabel bagi Pramuka Penggalang Gudep Jendral Sudirman SMPN 17 Kendari"
II. Tujuan Kegiatan
Meningkatkan Keterampilan (Scouting Skills): Melatih anggota Penggalang agar menguasai ikatan dan simpul dasar dalam kepramukaan (seperti Simpul Pangkal, Simpul Mati, dan Ikatan Silang).
Melatih Kerja Sama Tim: Menguji kekompakan dan pembagian tugas antaranggota dalam satu regu.
Mengasah Kemandirian & Problem Solving: Melatih ketangkasan serta ketelitian peserta didik dalam merangkai ikatan yang kuat dan simetris untuk kebutuhan berkemah di alam terbuka.
III. Manfaat Kegiatan
Bagi Peserta Didik: Menambah wawasan kepramukaan, mengasah logika terapan melalui struktur ikatan, serta membentuk mental pantang menyerah dan gotong royong.
Bagi Regu/Gudep: Menyiapkan struktur regu yang tangguh dan siap pakai untuk kegiatan perkemahan (Persami) maupun ajang perlombaan (Lomba Tingkat).
IV. Prosedur Kegiatan
A. Persiapan Equipment & Alat
Setiap regu menyiapkan peralatan wajib:
Tongkat Pramuka standar (panjang 160 cm) sebanyak 3–4 buah.
Tali pramuka (tali marlin/nilon) secukupnya.
B. Tahap Pelaksanaan
Penyampaian Teori Singkat (10 Menit)
Pembina memperagakan cara membuat simpul dasar:
Simpul Pangkal: Untuk mengawali dan mengakhiri ikatan pada tongkat.
Ikatan Silang/Palang: Untuk menyambung tongkat yang bersilangan tegak lurus atau membentuk kaki tiga (tripod).
Simpul Mati: Untuk menyambung dua tali yang sama besar dalam keadaan kering.
Praktik Pembuatan Tiang Bendera Tiga Kaki (30 Menit)
Setiap regu berkumpul dan membagi peran (ada yang memegang tongkat, mengulur tali, dan mengikat).
Langkah 1: Rebus 3 tongkat pramuka dan sejajarkan. Buat Simpul Pangkal pada salah satu tongkat utama.
Langkah 2: Lakukan ikatan batang/kaki tiga dengan melilitkan tali melingkari ketiga tongkat sebanyak 4–5 putaran, lalu kunci dengan simpul mati/pangkal.
Langkah 3: Mekarkan ketiga kaki tongkat hingga membentuk pondasi tripod yang kokoh di tanah.
Langkah 4: Sambungkan tongkat ke-4 di bagian atas sebagai tiang bendera vertikal menggunakan Ikatan Canggah/Menyambung Tongkat.
Pengujian & Evaluasi (10 Menit)
Pembina menguji kekuatan dan ketepatan struktur ciptaan tiap regu (pemeriksaan kerapian ikatan, kekuatan tarikan, dan keandalan fondasi).
Memberikan koreksi serta apresiasi kepada regu dengan ikatan terkuat dan paling rapi.
Dari Banjir Menuju
Berkah: Asa yang Berbuah Manis di Kebun Tomat Seventeen
Oleh: Farah Suci Amaliah
Tim Redaksi Buletin Digital
Seventeen
SMPN 17 Kendari – Halo Sobat Seventeen! Ada kabar gembira dan
penuh haru dari sudut hijau sekolah kita hari ini.
Jika beberapa waktu
lalu kita sempat dibuat cemas oleh musim hujan ekstrem hingga banjir yang melanda
area sekolah, hari ini lingkungan SMPN 17 Kendari justru diselimuti aura
kebahagiaan. Kebun tomat kebanggaan kita, yang sempat berjuang keras untuk
bertahan hidup di tengah cuaca buruk, akhirnya resmi menunaikan janjinya. Doa
dan kerja keras kita semua terjawab sudah!
Hari ini, saya bersama
rekan-rekan pengurus OSIS menyaksikan langsung momen yang sangat dinantikan: Panen Kedua Kebun Tomat SEVENTEEN!
Senyum Merekah di
Antara Tomat yang Merah
Suasana di kebun tomat
pagi ini benar-benar hidup. Warna-warni buah tomat yang mulai menguning hingga
merah merekah seolah menjadi simbol kemenangan atas perjuangan panjang kita.
Ingat betul rasanya bagaimana kawan-kawan OSIS dan warga sekolah tiada hentinya
merawat, memupuk asa, dan melangitkan doa agar tanaman-tanaman ini bisa
bertahan dan berbuah.
"Bahagia sekali rasanya
melihat kerja keras terbayar lunas. Melihat senyum warga sekolah saat memetik
tomat-tomat ini adalah momen terbaik hari ini," ujar salah satu mandor dadakan dari pengurus
OSIS di sela-sela kesibukan memanen.
Riuh Rendah di Meja
Penimbangan
Setelah semua
keranjang penuh dengan buah tomat yang segar, keseruan tidak berhenti di situ.
Kegiatan langsung bergeser ke area penimbangan untuk melihat hasil konkret dari
jerih payah hari ini.
Bagaimana situasinya?
Sangat seru dan penuh antusias!
Rekan-rekan OSIS
dengan sigap dan teliti langsung membagi tugas:
Tim Penimbang:
Dengan cekatan menaruh tumpukan tomat di atas timbangan.
Tim Pencatat:
Dengan fokus penuh mencatat setiap gram hasil yang diperoleh hari ini agar
data panen kedua ini terdokumentasi dengan akurat.
Sorak sorai kecil
terdengar setiap kali jarum timbangan menunjukkan angka yang memuaskan. Ini
bukan sekadar angka, Sobat Seventeen, tapi ini adalah bukti nyata dari sebuah
kegigihan.
Dari kebun tomat SMPN
17 Kendari, panen hari ini mengajarkan kita satu hal: setelah badai dan banjir, selalu ada buah manis yang siap dipetik
bagi mereka yang tidak pernah berhenti berusaha dan berdoa.
Tunggu terus update
keseruan kegiatan sekolah kita hanya di Buletin Digital Seventeen! See you on the next story!
Oleh: Farah Suci AmaliahTim Redaksi Buletin Digital Seventeen
SMPN
17 Kendari – Halo
Sobat Seventeen! Perjuangan tim hijau sekolah kita kembali berlanjut. Setelah
kemarin kita merayakan keberhasilan kebun tomat, hari ini ada cerita perjuangan
yang tak kalah seru sekaligus menantang dari area kebun lombok besar kita.
Menjadi
seorang pekebun emang nggak pernah mudah, Sobat. Kebun lombok besar kebanggaan
kita belakangan ini harus menghadapi ujian berat. Sejak buah lombok mulai
berkembang dan membesar, serangan hama yang tak diundang datang menyerbu.
Namun,
bukan anak-anak SMPN 17 Kendari namanya kalau mudah menyerah!
Langkah Taktis: Panen Dini sebagai Solusi
Melihat
kondisi yang cukup mengkhawatirkan, tim kerja lingkungan sekolah langsung
mengambil tindakan cepat dan taktis. Demi menekan kerugian dan menyelamatkan
hasil yang tersisa, tim memutuskan untuk melakukan pemanenan lebih awal.
Langkah
ini diambil sebagai solusi terbaik agar buah lombok besar yang masih sehat
tidak ikut rusak oleh serangan hama. Dengan sigap, rekan-rekan langsung turun
ke lapangan untuk memilah dan memetik lombok-lombok yang berpotensi
terselamatkan. Kejelian dan kecepatan kerja tim benar-benar diuji dalam situasi
genting ini.
Panen Perdana yang Tetap Disyukuri
Meski
harus berpacu dengan waktu dan serangan hama, kerja keras tim kerja akhirnya
membuahkan hasil nyata. Pada panen perdana yang dilakukan melalui dua
kali proses pemetikan ini, kita berhasil mengumpulkan lebih dari dua
kilogram lombok besar!
Angka
dua kilo lebih ini mungkin terlihat sederhana, tapi bagi kami, ini adalah
simbol kemenangan kecil. Di tengah kepungan hama, setiap ons lombok yang
berhasil diselamatkan adalah bukti kegigihan dan kerja keras rekan-rekan di
lapangan yang tidak mau pasrah begitu saja pada keadaan.
Dari
kebun lombok besar ini, kita belajar bahwa masalah akan selalu ada, tetapi
respons cepat dan kerja sama tim yang solid adalah kunci untuk menemukan
solusi.
Tetap
semangat untuk tim kebun sekolah, dan sampai jumpa di kabar-kabar seru
berikutnya hanya di Buletin Digital Seventeen!
Laporan Pandangan Mata: Merawat Harapan, Menenun Hijau di Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari
Oleh: Tim Redaksi Buletin Digital Seventeen
Kendari, Juni 2026
Halo Sobat Seventeen!
Bagaimana kabar gawai dan semangat kalian hari ini? Semoga secerah langit Kendari ya! Hari ini, Tim Buletin Digital Seventeen mengajak kalian semua untuk melepaskan pandangan sejenak dari layar ponsel dan beralih ke sudut hijau sekolah kita. Ya, apa lagi kalau bukan area penanaman Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari!
Tim kami baru saja melakukan pemantauan langsung di lapangan, dan jujur saja, ada rasa hangat dan bangga yang membuncah saat melihat perkembangan proyek hijau kita ini. Yuk, ikuti laporan pandangan mata kami!
Dari Tunas Kecil, Kini Mulai Belajar Berbuah
Ingatkah kalian beberapa minggu lalu saat kita bersama-sama menyemai dan merawat bibit cabe kecil (cabe rawit) di tanah sekolah kita? Berkat cucuran keringat dan kepedulian kita semua, pemandangan di area kebun kini sudah berubah drastis.
Sejauh mata memandang, rona hijau dedaunan tampak begitu menyegarkan. Dan tebak apa? Saat kami mendekat, sebagian besar tanaman cabe kecil kita sudah mulai menampakkan bunga-bunga putih yang cantik, bahkan beberapa di antaranya sudah belajar berbuah! Menyaksikan buah-buah cabe hijau kecil yang mulai menyembul di antara dedaunan itu rasanya seperti melihat adik bayi yang baru belajar berjalan—menggemaskan sekaligus bikin bangga!
"Melihat bunga-bunga itu mekar, rasanya semua lelah setelah pulang kelas langsung hilang. Ini bukti kalau usaha kita tidak mengkhianati hasil!" ujar salah satu siswa yang sedang menyiram tanaman.
Realita di Lapangan: Perjuangan Melawan Hama dan Gulma
Namun, Sobat Seventeen, berkebun tentu bukan cerita tentang keberhasilan instan. Alam selalu punya cara untuk menguji kesabaran kita. Dalam pantauan kami, harus diakui bahwa tidak semua tanaman tumbuh dengan optimal. Ada beberapa titik tanaman yang tampak kerdil atau daunnya sedikit menguning. Tapi tenang, Tim Adiwiyata dan teman-teman kita tidak tinggal diam! Berbagai upaya penyelamatan terus digalakkan secara konsisten:
Pemupukan Berkala: Nutrisi tambahan terus diberikan agar tanaman yang tertinggal bisa mengejar ketertinggalannya.
Pembasmian Hama: Pengawasan ketat dilakukan untuk menghalau kutu daun dan ulat yang nakal.
Pembersihan Gulma: Rumput liar yang berebut makanan dengan tanaman cabe kita dicabut secara rutin.
Kita harus paham bahwa dalam satu ekosistem, wajar jika ada yang tumbuh cepat dan ada yang butuh perhatian ekstra. Yang terpenting adalah komitmen kita untuk tidak menyerah pada tanaman yang kurang optimal tersebut.
Kegembiraan yang Tak Ternilai
Dibalik dinamika pasang surut tersebut, ada satu hal yang paling berharga: rasa gembira dan kebersamaan kita. Melihat usaha mandiri seluruh warga SMPN 17 Kendari mulai menampakkan hasil nyata adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Program Sekolah Hebat ini bukan sekadar tentang memanen cabe, tapi tentang memanen karakter peduli lingkungan, kerja keras, dan rasa tanggung jawab.
Yuk, Jaga Bersama Hijau Sekolah Kita!
Sobat Seventeen, tanaman-tanaman cabe ini adalah aset kita, simbol dari kerja keras kolektif kita. Tanaman yang subur berkat rawatan kita, dan yang kurang optimal menanti uluran tangan kita.
Oleh karena itu, yuk kita luangkan waktu, minimal dengan tidak mengganggu atau merusak area steril tanaman. Jikalau lewat dan melihat ada rumput liar atau hama, jangan segan untuk mencabutnya. Mari kita kawal proses ini bersama-sama sampai hari panen raya tiba!
[SPECIAL UPDATE] Merah Merona di Lahan Kita: Cabe Besar SMPN 17 Kendari Siap Panen Raya!
Oleh: Tim Redaksi Buletin Digital Seventeen
Kendari, Juni 2026
Sejauh Mata Memandang: Barisan "Raksasa" yang Sempurna
Berbeda dengan beberapa petak tanaman lain yang masih butuh perawatan ekstra, blok cabe besar (lombok besar) kita menunjukkan performa yang juara dunia! Tim kami yang turun ke lapangan dibuat takjub melihat pertumbuhan tanaman yang begitu seragam, kokoh, dan sehat.
Tidak ada kata "kerdil" di sini. Semua tanaman tumbuh tegak memamerkan daun hijau pekat yang lebar. Dan yang paling bikin gagal fokus? Buah-buah cabe besar itu! Mereka sudah bergelantungan dengan berat, mengkilap terkena sinar matahari, dan beberapa sudah mulai berubah warna dari hijau tua menjadi kemerahan.
"Ini mah tinggal hitungan hari menuju panen!" celetuk salah satu anggota tim kami saat melihat ukuran cabe yang panjang dan berisi.
Euforia di Kebun: Senyum yang Tak Bisa Disembunyikan
Sobat Seventeen, tahu tidak apa yang lebih indah dari melihat buah cabe yang lebat? Jawabannya adalah melihat wajah-wajah bahagia teman-teman kita.
Suasana di kebun sekolah belakangan ini terasa sangat berbeda. Ada aura kegembiraan yang menular. Setiap pagi dan sore, siswa-siswa yang bertugas merawat tampak begitu bersemangat. Rasa lelah menyiram dan mencangkul seolah menguap begitu saja saat mereka memegang langsung buah lombok yang sebentar lagi siap dipetik.
"Jujur, rasanya puas banget! Kemarin-kemarin kita cuma lihat di internet cara menanamnya, sekarang buahnya beneran ada di depan mata dan tumbuh subur semua. Kami sudah tidak sabar mau panen bareng-bareng!" — Rani, Siswa Kelas 8.
Bukan cuma Rani, hampir semua siswa yang lewat di area ini pasti akan berhenti sejenak, berdecak kagum, atau bahkan melakukan selfie dengan latar belakang cabe yang lebat. Keberhasilan ini benar-benar menjadi mood booster bagi seluruh warga SMPN 17 Kendari
Setelah kita disuguhkan pemandangan indah dari cabe kecil dan cabe besar, kali ini Tim Buletin Digital Seventeen membawa laporan yang penuh inspirasi dan perjuangan dari blok Tanaman Tomat. Seperti yang kita tahu, cuaca di Kendari beberapa hari terakhir ini sedang tidak menentu, bahkan curah hujan yang tinggi sempat membuat area kebun sekolah kita tergenang banjir.
Namun, tebak apa yang terjadi? Alih-alih layu, tanaman tomat kita justru menunjukkan mental juara!
Si Hijau yang Tangguh: Melawan Hujan Lebat dan Banjir
Banjir dan empasan hujan lebat boleh saja datang, tetapi tanaman tomat Program Sekolah Hebat SMPN 17 Kendari menolak untuk menyerah. Berkat struktur tanah yang dirawat dengan baik dan kesigapan teman-teman dalam membenahi drainase pasca-banjir, keajaiban itu benar-benar terjadi.
Saat kami melakukan pantauan mata hari ini, batang-batang pohon tomat berdiri dengan sangat kokoh. Pertumbuhan batangnya begitu kekar seolah mencengkeram bumi dengan kuat. Tidak hanya itu, daun-daunnya tumbuh sangat lebat, hijau segar, dan bebas dari kerusakan berarti akibat badai.
Yang paling membuat kami berdecak kagum adalah di balik rimbunnya daun-daun lebat itu, kuncup-kuncup bunga kuning kecil mulai bermunculan dengan indahnya! Ini adalah simbol kehidupan dan kemenangan kecil atas cuaca ekstrem yang sempat melanda sekolah kita.
Usaha Tanpa Henti dan Untaian Doa para Siswa
Ketangguhan tanaman tomat ini tidak lepas dari "tangan dingin" dan ketulusan hati para siswa SMPN 17 Kendari. Melihat kebun mereka sempat diterpa banjir, teman-teman kita tidak tinggal diam atau pasrah. Mereka justru makin gencar bergerak: mengikat batang tomat ke bilah bambu (ajir) agar tidak roboh, membersihkan sisa lumpur, dan memastikan akar tanaman tidak membusuk.
Namun, di samping usaha keras fisik tersebut, ada hal menyentuh yang kami temukan di lapangan. Di sela-sela waktu merawat tanaman, terdengar untaian harapan dan doa yang tulus dari para siswa.
"Setiap kali menyiram dan melihat bunganya mulai tumbuh setelah banjir kemarin, kami selalu menyelipkan doa. Kami berharap cuaca bisa lebih bersahabat ke depannya dan Tuhan memberkati kerja keras kami, agar dalam waktu dekat, tomat-tomat ini bisa berbuah lebat dan segera kami panen," ungkap salah satu siswa dengan mata berbinar penuh harap.
Melihat dedikasi yang begitu besar, rasanya tidak berlebihan jika kita optimis bahwa buah-buah tomat yang ranum akan segera menghiasi kebun kita dalam waktu dekat.
Mari Jaga Harapan Ini Bersama!
Sobat Seventeen, tanaman tomat ini adalah guru kehidupan bagi kita semua. Mereka mengajarkan bahwa sekeras apa pun badai dan ujian yang menerpa (bahkan banjir sekalipun), selama kita memiliki akar yang kuat dan dirawat dengan kasih sayang, kita akan tetap berdiri tegak dan tumbuh berbunga.
Mari kita aminkan bersama doa teman-teman kita. Tetap jaga barisan, bantu awasi kebun sekolah kita setelah hujan mereda, dan mari kita tunggu bersama momen manis saat buah tomat pertama mulai ranum dan siap dipetik!
Sampai jumpa di laporan pandangan mata berikutnya!