Jumat, 05 Desember 2025

Maulana Juara Poster

 


Pada hari Kamis 4 Desember 2025, saya mendapat kesempatan untuk mewakili sekolah dalam kegiatan lomba poster digital di Balai Kota Kendari. Awalnya saya sempat mengira acara tersebut adalah pengumuman pemenang, tetapi ternyata itu adalah rangkaian kegiatan peringatan Hari Anti Korupsi yang diikuti oleh banyak pelajar dari berbagai sekolah.

Saat tiba di Balai Kota, suasana acara sangat meriah. Setelah registrasi peserta, kami diarahkan masuk ke aula utama. Di sana acara dibuka dengan sambutan dari para pejabat pemerintah. Setelah itu, ada penampilan drama dan nyanyian bertema anti korupsi yang dibawakan oleh beberapa sekolah. Drama itu menggambarkan bagaimana korupsi dapat merusak masa depan bangsa, sedangkan nyanyiannya mengajak semua orang untuk menjaga kejujuran.

Saya merasa bangga karena poster saya yang berjudul “Ayo Lawan Korupsi, Selamatkan Masa Depan Bangsa” dipajang bersama karya peserta lainnya. Posternya menggunakan warna merah putih dan berisi ajakan untuk menghentikan korupsi. Saya menggambarkan siswa-siswa yang membawa pesan kejujuran, tangan terborgol sebagai simbol hukuman bagi pelaku korupsi, serta tulisan “Berani Jujur Itu Hebat” agar mudah menginspirasi orang yang melihat.

Walaupun suasananya sempat membuat saya gugup, saya tetap berusaha percaya diri. Di akhir acara, panitia akhirnya mengumumkan pemenang lomba poster digital. Alhamdulillah, saya berhasil meraih Juara Harapan 3. Saya sangat bersyukur dan bangga karena usaha saya membuat poster selama ini tidak sia-sia.

Mengikuti lomba ini membuat saya belajar bahwa menjaga kejujuran itu penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masa depan negara. Pengalaman ini akan selalu saya ingat sebagai motivasi agar saya terus berkarya dan berprestasi.

Rabu, 03 Desember 2025

JUARA SENAM TA BOLA BALE


 

PIALA PERTAMA SMPN 17 KENDARI


Mengubah Julukan "Sekolah Ubi" Menjadi "Sekolah Prestasi" di SMPN 17 Kendari

Kisah ini dimulai dari sebuah mimpi besar di tengah hamparan tanaman ubi dan padang ilalang yang luas. Tahun 2006, SMPN 17 Kendari atau yang akrab disapa "Seventeen" baru berusia seumur jagung. Walaupun baru didirikan tahun 2004 namun sudah harus berhadapan dengan julukan yang menyakitkan. "Sekolah Ubi" atau "Sekolah Pinggiran." Julukan-julukan negatif itu, yang lahir dari lokasi sekolah yang jauh dari jalur kermaian kota. Terasa seperti beban yang harus dipikul oleh setiap siswa dan guru.

Dibalik label tersebut, tersembunyi semangat membara. Siswa-siswi Seventeen memiliki keinginan yang sangat besar untuk membuktikan diri. Mereka melihat kompetisi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang Kemendikbudristek) pada tahun 2006. Kegiatan yang bertajuk Keunggulan Pembelajaran, sebagai sebuah panggung untuk menampilkan upaya terbaik. Ini kesempatan untuk memutus stigma yang melekat.

Bagaimana peran saya?  Saat itu sebagai guru yang mendampingi mereka, dimulai.

Peran saya sangat padat. Menjabat Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Pembina OSIS, sekaligus Pembina Ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Jadwal yang begitu mencekik membuat waktu pembimbingan karya tulis ilmiah (KTI) siswa menjadi tantangan terbesar. Proses penelitian, penyusunan, hingga latihan presentasi harus diambil di luar jam pelajaran resmi.

Seringkali, pembimbingan berlangsung saat hari sudah makin gelap, ketika tenaga sudah hampir terkuras setelah seharian mengurus berbagai tugas sekolah. Saya ingat betul, semangat mereka adalah bahan bakar yang jauh lebih kuat dari rasa lelah. Melihat mata mereka yang penuh harapan dan keinginan kuat untuk mengubah nasib sekolah. Membuat saya rela meluangkan waktu dan sisa energi yang ada.

Kami membahas hipotesis, menganalisis data, menyusun kalimat demi kalimat, dan berlatih presentasi berulang kali. Mereka tidak hanya belajar tentang metode penelitian. Para siswa itu juga belajar tentang ketekunan, kepercayaan diri, dan kerja keras yang tulus.

Akhirnya, doa-doa itu membuahkan hasil.

Pada kompetisi Keunggulan Pembelajaran tahun 2006, tim KIR Seventeen berhasil meraih piala pertama untuk SMPN 17 Kendari sejak sekolah itu didirikan. Momen itu adalah ledakan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Piala itu bukan hanya sekadar trofi. Itu adalah simbol perubahan, bukti nyata bahwa julukan "Sekolah Ubi" telah mulai berganti menjadi "Sekolah Prestasi."

Prestasi perdana ini menjadi titik balik dan semangat baru yang menular ke generasi siswa berikutnya. Setelah piala pertama itu, bendera prestasi Seventeen terus berkibar. Bukan hanya puluhan piala yang berhasil diraih di tingkat provinsi, tetapi karya tulis ilmiah siswa mampu menggapai dua kali meraih medali emas di tingkat nasional. Bahkan, di bidang jurnalistik, mimpi mereka juga terwujud dengan meraih prestasi di Kota Yogyakarta. Kisah inilah yang kemudian menjadi jembatan berdirinya Buletin Digital Seventeen, meskipun kini timbul tenggelam dalam kiprahnya di "Bumi Rindang Seventeen."

Kini, setelah dua puluh satu tahun berkiprah (2004-2025), kisah piala perdana tahun 2006 ini tetap menjadi cerita inspirasi yang abadi. Ia mengajarkan bahwa lokasi fisik tidak menentukan potensi.  Bahwa dengan keinginan yang kuat dari siswa, didukung oleh pengorbanan dan dedikasi guru mimpi akan dapat menjadi nyata. Meskipun dalam keterbatasan waktu. Label negatif apa pun dapat diubah menjadi sebuah sejarah kebanggaan.

Sabtu, 23 November 2024

EDUKASI JURNALISTIK DARI NARASUMBER HANDAL

Suasana apel pagi ini (21/11) diwarnai dengan permainan seru. Kedatangan tamu dari Kendari Pos dan Telkomsel ini untuk sebuah kegiatan bertajuk Road To School. Lapangan upacara sekolah bagai ajang pencarian bakat. Berbagai hiburan dalam permainan bertabur hadiah menarik. Mereka merangkai tema berkarya dengan inovasi dan kreativitas digital.



Setelah Kepala Sekolah memberi sambutan, Wakil Direktur Kendari Pos memberikan pencerahan pada kami semua tentang pentingnya sebuah berita dan memotvasi untuk mau berkarya dalam menulis dan fotografer. Era digital akan membuat hidup lebih mudah jika dimanfaatkan dengan hal yang positif ungkap Pak Awal Najamudin. Beliau juga memberikan cendramata pada Ketua Osis setelah mendapatkan tantangan berliterasi. Games itu berlajut ketiaka Kak Sandra mengambil alih pengeras suara. Staff Mobile Consumer Opreations Terittory - Temkomsel Kendari memanggil siswa untuk melatih daya tanggapnya dalam menelaah kata dengan cepat. Semuanya terhibur. Bukan hanya tawa dan canda namun banyak hadiah yang berlimpah pada siswa.

Melihat suasana pagi itu, sebagian besar yang mengambil peran adalah Komunitas Menulis Seventeen. Kawan-kawanku ini menjadi kontribusi berita bagi buletin seventeen. Mereka akhirnya berkesempatan mengungkapkan keinginannya untuk belajar bersama Kendari Pos dalam hal jurnalistik.





Rabu, 20 November 2024

LAMPU HIAS BUATANKU - CITRA AYU LESTARI

Merancangnya memang penuh tantangan. Membuat desainnya serta rancangan alat dan bahan yang dibutuhkan hal pertama yang dilakukan. Mungkin ini tidak sebagus yang dijual pada pasar atau supermarket. Namun ini barang berharga buatku. Akhirnya saya mampu membuatnya dengan caraku sendiri.

Citra Ayu Lestari

Saat kegelapan, lampu ini manampakkan cahayamya. Tidak pelu terang karena rencanya digunakan pada kamar tidur. Mengapa demikian? Hasil studi pustaka yang dilakukan, ternyata suasana remang atau reduk saat tidur sangat bermanfaat bagi tubuh. Cahaya yang redup ini akan meyebabkan tubuh dapat memproduksi  hormon melatonin. Zat yang dibuat tubuh saat tidur. Rupanya kekurangan hormon ini akan menyebabkan munculnya tanda-tanda kecemasan, respon terhadap stress yang buruk, menimbulkan insomnia dan bangun terlalu pagi. Hormon ini juga membantu dalam siklus menstrasi pada wanita dan hilangnya fingsi neuron. Nah, bagaimana? Apakah lampu tidur dikamarmu telah redup? 

Jumat, 15 November 2024

FOTO PILIHAN MINGGU KE-2 NOVEMBER 2024

 

Usai pembenahan bangku dan meja kami rehat sejenak. Melepas lelah dibawah rimbunya pohon ketapang depan Mushollah Sekolah. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka persiapan memasuki gedung baru setelah direhab selama satu semester. Saya dan kawan-kawan mulai membersihakan dan memilah bangku dan kursi agar layak digunakan. Senang rasanya bisa menggunakan gedung baru. Suasananya tentu akan berbeda dengan sebelumnya. Ruang laboratorium IPA yang kami gunakan saat ini memang luas namun banyak perabot lain yang ada sehingga perlu kehati-hatian, 


Harapannya semoga dibulan mendatang gedung baru telah selesai dikerjakan atau dipugar. Semoga pula semangat belajar kami akan bertambah. (Uci)